Sumbawanews.com,- Pada 23 November 1965, Dipa Nusantara Aidit, pemimpin tertinggi Partai Komunis Indonesia, tewas ditembak di tepi sumur tua di Boyolali, Jawa Tengah, setelah ditangkap di Solo dan diinterogasi selama semalam. Sebelum eksekusi, Aidit menulis pengakuan setebal 50 halaman yang menanggung seluruh tanggung jawab atas peristiwa 30 September 1965, namun dokumen itu dibakar oleh Pangdam Diponegoro. Ia ditangkap pada 22 November malam di rumah bekas pegawai PJKA di Desa Sambeng, setelah petunjuk dari petinggi PKI yang ditangkap dilepaskan sebagai umpan. Dibawa ke markas Loji Gandrung, Aidit dimintai keterangan di bawah cahaya lampu redup, lalu dibawa dalam iring-iringan jip menuju Boyolali. Di tengah perjalanan, jip yang membawanya membelok sendiri menuju Kompleks Markas Batalyon 444 TNI AD. Di sana, Kolonel Yasir Hadibroto meminta izin untuk mengeksekusi Aidit. Sebelum tembakan ditembakkan, Aidit menyampaikan pidato politiknya yang berapi-api, memicu amarah para prajurit. Satu magasin senapan AK-47 menghujani tubuhnya, dan jenazahnya jatuh ke dalam sumur tua. Keesokan harinya, Yasir melaporkan keberhasilan misinya kepada Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta, yang hanya menjawab dengan senyum. Hingga kini, lokasi pasti jenazah Aidit tidak pernah diketahui, dan bekas sumur tempat ia tewas kini telah berubah menjadi lahan tanaman labu siam, ubi jalar, mangga, dan jambu biji.















