Sumbawanews.com,- Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sejumlah pengemudi ojek online merantau dari daerah sekitar Jabodetabek demi mengejar penghasilan yang lebih stabil. Salah satunya adalah Saugi (31), yang meninggalkan kampung halamannya di kaki Gunung Salak, Bogor, setelah menyadari permintaan penumpang di daerahnya jauh lebih rendah dibandingkan di Jakarta. Ia sempat bekerja sebagai office boy di Cikini pada 2017, namun setelah perusahaan memindahkan kantor ke Surabaya dan ia di-PHK, keluarganya mendorongnya untuk tetap tinggal di Jakarta. Ia pun memutuskan menjadi pengemudi ojol secara penuh waktu.
Saugi mengaku bahwa pendapatan di Bogor hanya mengandalkan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yang jaraknya 45 menit dari rumahnya. Ketika libur semester tiba, aktivitas pun lesu. “Pulang pergi capek, mendingan di sini ajalah. Pulang deket, tinggal ke Tanah Abang,” katanya saat ditemui di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, pada 3 Oktober 2026. Ia kini tinggal di kontrakan bersama sesama pengemudi ojol asal Bogor, yang dulu tidak saling kenal di kampung, tetapi bertemu dan membentuk solidaritas di Jakarta.
Mereka tidak sendirian. Banyak pengemudi ojol dari Tangerang dan wilayah penyangga lainnya juga merantau dengan pola serupa: mengontrak bersama, beristirahat di basecamp, dan menjadikan Jakarta sebagai sumber utama penghasilan harian. Di sekitar Stasiun Gondangdia, mereka berkumpul bukan hanya untuk menunggu pesanan, tetapi juga sebagai ruang sosial—tempat saling menguatkan di tengah tekanan algoritma aplikator dan biaya hidup yang terus meningkat. Sebagian dari mereka bahkan tidur di emperan atau musala, tapi Saugi menolak itu. “Butuh istirahat, butuh mandi,” ujarnya.
Ia pulang ke Bogor paling lama dua minggu sekali, demi melepas rindu pada keluarga. Baginya, perantauan bukan pilihan mudah, tapi satu-satunya jalan untuk bertahan.















