Sumbawanews.com,- Lionel Messi menutup perjalanan 20 tahun bersama Timnas Argentina dengan penampilan terakhirnya di Stadion Monumental, Buenos Aires, pada Selasa, 7 Oktober 2026, dalam kemenangan 3-0 atas Benin. Pemain berusia 39 tahun itu mencetak satu gol dari titik penalti, memberikan dua assist untuk Nicolas Otamendi dan Nico Paz, dan mengukir dua rekor sepanjang masa: 208 caps dan 126 gol—angka tertinggi dalam sejarah La Albiceleste. Pertandingan ini menjadi penampilan ke-208 sekaligus terakhir Messi di level internasional, dihadiri lebih dari 85.000 suporter yang menyaksikan momen bersejarah dengan haru.
Messi melampaui catatan legenda Argentina seperti Javier Mascherano (147 caps), Angel Di Maria, dan Javier Zanetti (masing-masing 145 caps) dalam hal penampilan. Di urusan mencetak gol, ia menjauhkan diri dari Gabriel Batistuta (56 gol) dan Lautaro Martinez (42 gol) dengan selisih 70 gol—sebuah jarak yang hampir mustahil dikejar oleh generasi mendatang. Gol ke-126nya, yang dicetak lewat penalti, datang tepat di laga pamungkasnya, menyempurnakan performa spektakuler yang dimulai dengan assist kepada Otamendi dan Paz.
Perjalanan Messi bersama tim nasional tidak selalu mulus. Ia sempat menerima kartu merah hanya dalam waktu kurang dari satu menit setelah masuk sebagai pengganti saat debut senior pada 2005 melawan Hungaria. Namun, setelah serangkaian kegagalan di turnamen besar, Messi bangkit dengan membawa Argentina meraih Copa America 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024—mengubahnya dari sosok yang dituding gagal menjadi ikon abadi. Setelah peluit panjang berbunyi, rekan setim, pemain Benin, hingga wasit Fernando Vejar berkumpul mengelilingi Messi dalam penghormatan tak terlupakan. Drone di langit stadion membentuk gambar wajahnya, sementara Messi menangis sambil menyeka air mata sebelum dan sesudah laga.
Dalam pernyataan emosionalnya, Messi mengatakan, “Saya ingin terus datang seumur hidup saya, karena bermain untuk Argentina adalah hal terindah yang bisa terjadi.” Ia juga menyatakan kebanggaannya memakai seragam tim nasional selama lebih dari dua dekade. Meski sempat menerima kartu merah di menit akhir pertandingan—sebuah kejadian tak terduga yang menjadi bagian dari narasi epiknya—messi meninggalkan sepak bola internasional bukan sebagai pemain yang pensiun, tetapi sebagai legenda yang tak tergantikan.















