Sumbawanews.com,- Ancaman ransomware berbasis kecerdasan buatan kini mampu melumpuhkan sistem cadangan data terlebih dahulu, membuat perusahaan Indonesia rentan mengalami kelumpuhan operasional total. Untuk mengatasi risiko ini, para ahli keamanan siber mengimbau perusahaan segera memisahkan sistem backup dari infrastruktur utama, menggunakan pendekatan immutable backup dan air-gap yang memastikan salinan data tidak dapat diubah atau dihapus oleh serangan siber.
Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, menjelaskan bahwa meski adopsi AI di sektor industri semakin pesat, banyak perusahaan masih mengandalkan praktik lama yang menyatukan lingkungan produksi dengan sistem backup. Ketika serangan terjadi, peretas tidak hanya mengenkripsi data utama, tetapi juga menghapus atau memodifikasi salinan cadangan, sehingga pemulihan menjadi mustahil. Riset Synology menunjukkan hanya 20% perusahaan di Indonesia yang yakin mampu pulih cepat setelah diserang ransomware.
Untuk memperkuat ketahanan, Synology meluncurkan perangkat keras khusus bernama ActiveProtect, termasuk seri DP5200, yang dirancang untuk mengelola backup terenkripsi dari berbagai lokasi secara terpusat sambil menjaga isolasi penuh dari jaringan utama. Pendekatan ini memastikan data inti bisnis tetap aman meski sistem operasional berhasil ditembus.
Selain ancaman eksternal, ledakan volume data AI menyebabkan 88% perusahaan mengeluhkan inefisiensi penyimpanan akibat duplikasi data yang tinggi. Solusi berbasis arsitektur NVMe dan manajemen DSM 7.4 Tiering kini digunakan untuk memilah data otomatis berdasarkan frekuensi akses dan menghilangkan duplikasi secara real-time. Di sisi lain, penggunaan platform AI berbasis cloud publik berisiko mengekspos data sensitif, sehingga solusi on-premises seperti Synology Office Suite menjadi pilihan strategis untuk memanfaatkan AI tanpa melepaskan kendali atas data.
Pemanfaatan AI juga merambah ke pengawasan fisik melalui perangkat DVA7400 yang mampu mengubah rekaman CCTV menjadi intelijen operasional real-time, dengan kemampuan deteksi ancaman dan pencarian kejadian spesifik secara presisi. Integrasi antara keamanan digital dan fisik menunjukkan bahwa perlindungan bisnis di era AI harus bersifat holistik—mulai dari perlindungan data hingga pengawasan lingkungan fisik.















