Sumbawanews.com,- Pemain muda Barcelona, Lamine Yamal, kembali naik podium di malam penghargaan Ballon d’Or 2026 di London, Senin (27/10/2026) waktu setempat, untuk menerima Kopa Trophy ketiganya secara berturut-turut. Meski gagal memenangkan trofi utama, bintang berusia 19 tahun itu justru memberikan penghargaan tertinggi bukan untuk dirinya, melainkan untuk rekan setimnya, Pau Cubarsi. Dalam pidato penerimaannya, Yamal secara terbuka menyatakan bahwa Cubarsi lebih layak menjadi pemenang Kopa Trophy 2026, mengingat kontribusi konsisten bek muda La Masia itu sepanjang musim.
Yamal, yang menjadi satu-satunya pemain dalam sejarah Kopa Trophy yang memenangkan penghargaan ini tiga kali berturut-turut, tidak hanya menonjol karena kemampuan mencetak gol, tetapi juga karena kecemerlangannya dalam menciptakan peluang, dribel mematikan, dan keberanian membawa bola melewati lini pertahanan lawan. Sementara itu, Cubarsi, yang juga berusia 19 tahun dan sama-sama lulusan akademi Barcelona, tampil sebagai tulang punggung pertahanan tim di bawah pelatih Hansi Flick, dengan peran krusial dalam sistem pertahanan tinggi yang diterapkan di Camp Nou. Namun, menurut Sporting News, performa pertahanan Barcelona secara keseluruhan belum sekuat tim-tim terbaik dunia, sehingga kontribusi Cubarsi meski impresif, belum cukup mengungguli dampak global Yamal dalam perburuan penghargaan.
Di level tim nasional, Yamal memperkuat Spanyol hingga meraih gelar juara dunia di Piala Dunia 2026, sementara Cubarsi tampil di semua laga La Roja tanpa absen. Keduanya masuk dalam nominasi Kopa Trophy, tetapi hanya Yamal yang berdiri di atas panggung. Namun, dalam momen paling berkesan malam itu, ia menyerahkan kehormatan itu secara moral kepada rekan satu timnya. “Saya sebenarnya ingin melihat Cubarsi di sini. Menurut saya, penghargaan ini seharusnya menjadi miliknya,” ujar Yamal, sebelum menutup pidatonya dengan tegas: “Secara khusus, penghargaan kali ini seharusnya diberikan kepada Cubarsi.”
Dengan pengakuan ini, Yamal tidak hanya memperkuat reputasinya sebagai pemain berbakat, tetapi juga sebagai sosok yang rendah hati dan menghargai tim. Ia mengucapkan terima kasih kepada Barcelona dan tim nasional Spanyol atas dukungan yang membawanya ke titik ini—tiga kali juara, tapi tetap mengakui bahwa kehebatan sejati bisa datang dari tempat yang tak terduga.















