Sumbawanews.com,- Kevin Diks, bek tim nasional Indonesia yang baru saja memimpin Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026, kini harus menghadapi keterpurukan bersama Borussia Mönchengladbach setelah timnya kalah lagi dari Hoffenheim dengan skor 1-2 pada pekan keenam Bundesliga 2026/2027, Minggu (18/10/2026). Kekalahan ini memperpanjang rentetan enam kekalahan beruntun tanpa satu poin pun, menjadikan Gladbach sebagai klub keempat dalam sejarah Bundesliga yang mengawali musim dengan catatan buruk semacam itu. Pertandingan di Borussia-Park hanya disaksikan 43.712 penonton, jauh di bawah kapasitas stadion, dengan lebih dari 10.000 kursi kosong, menandai kekecewaan suporter yang kian nyata. Diks yang kembali memakai ban kapten, meski mengalami luka di alis akibat duel awal laga, tetap bertahan hingga akhir pertandingan, namun tak mampu menghentikan kejatuhan timnya.
Hoffenheim membuka keunggulan lewat Bambasé Conté pada menit ke-11. Borussia Mönchengladbach baru menyamakan skor melalui Wael Mohya pada menit ke-49, namun Alexander Prass kembali membawa tim tamu unggul pada menit ke-54, memastikan tiga poin berpindah tangan. Suporter tuan rumah mencemooh tim saat turun minum, menuntut perjuangan lebih besar, sementara hanya sekitar 250 pendukung Hoffenheim yang hadir, menunjukkan betapa minimnya antusiasme di laga ini. Meski pelatih Alexander Blessin menggantikan Eugen Polanski, perubahan signifikan belum terlihat, dan tekanan terhadap manajemen klub terus membesar.
Padahal, baru dua minggu sebelumnya, Diks merasakan puncak kebahagiaan karier internasionalnya. Ia menjadi kapten Timnas Indonesia saat mengalahkan Thailand 4-2 lewat adu penalti dalam final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026), setelah pertandingan berakhir imbang 2-2. Diks juga sukses mengeksekusi penalti pertama untuk Garuda dalam laga penentuan sejarah itu. Namun, keberhasilan bersama tim nasional tak mampu menjadi angin segar bagi nasib klubnya di Jerman. Enam kekalahan berturut-turut di Bundesliga kini menjadi beban berat yang sulit dihindari, bahkan ketika sang kapten tengah berada di puncak kejayaan di level internasional.















