Sumbawanews.com,- Dalam 24 jam terakhir, 18 orang meninggal di Gaza akibat kelaparan, sementara sedikitnya 86 orang—termasuk 76 anak-anak dan 10 dewasa—tewas akibat malnutrisi menyusul blokade Israel. Hampir satu dari tiga warga Gaza tidak makan selama berhari-hari, dan ribuan lainnya berada di ambang kelaparan parah, menurut Program Pangan Dunia. Di tengah kehancuran akibat perang dan blokade bertahun-tahun, pertanyaan memilukan kembali menggema di tenda-tenda pengungsian: “Apa yang akan kita makan hari ini?”
Para orang tua bangun sebelum fajar, berjalan menyusuri reruntuhan dan jalan-jalan yang terus diserang, berharap mendapat sedikit bahan makanan. Namun, pasar-pasar kosong, harga melambung, dan pasokan yang nyaris habis membuat setiap upaya sia-sia. Banyak yang pulang tanpa apa-apa, sementara anak-anak menangis karena perut kosong. Mohammed Shurrab, ayah tiga anak yang mengungsi dari Khan Younis, mengatakan mimpi buruk kelaparan yang sempat ia anggap berlalu kini kembali menghantui. “Ketika anak-anak tahu barang-barang pokok sudah tidak ada atau harganya terlalu mahal, mereka menangis,” ujarnya, dikutip dari Palestine Chronicle.
Ia mengecam ketidakberdayaan dunia internasional. “Apa yang sedang ditunggu dunia? Apakah mereka menunggu anak-anak dan lansia meninggal sebelum bertindak? Di mana para mediator dan organisasi hak asasi manusia?” Tanya Shurrab dengan nada pahit. Di tengah serangan yang tak kunjung reda, keluarga-keluarga Gaza tidak hanya berjuang untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mempertahankan kemanusiaan mereka.















