Sumbawanews.com,- Pemimpin Partai Alternatif untuk Jerman (AfD), Alice Weidel, mendesak pemerintah Jerman menghentikan seluruh bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina, dengan alasan Kyiv tidak mungkin menang melawan Rusia. Pernyataan itu disampaikan Weidel dalam wawancara dengan majalah The Economist pada 15 Oktober 2026, di mana ia menegaskan bahwa Ukraina terlalu kecil untuk mengalahkan kekuatan militer Rusia dan melanjutkan pendanaan perang hanya akan membebani ekonomi Jerman yang sudah terlilit utang besar.
Desakan itu muncul sehari setelah parlemen negara bagian Sachsen-Anhalt, yang dikuasai AfD dan Partai BSW, secara resmi menyetujui usulan menghentikan bantuan nonkemanusiaan ke Ukraina dan mencabut sanksi terhadap Rusia. Keputusan itu diambil dalam sidang di Magdeburg pada 14 Oktober 2026, didukung 44 dari 83 kursi parlemen daerah. Kedua partai berargumen bahwa perdamaian hanya bisa dicapai melalui diplomasi yang mempertimbangkan kepentingan keamanan Rusia, bukan melalui perpanjangan konflik.
Meski keputusan tersebut tidak mengikat pemerintah federal, langkah ini menjadi sinyal politik kuat bahwa pengaruh AfD semakin menguat, terutama di wilayah timur Jerman, setelah partai itu memenangkan pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt pada 6 September 2026. Weidel menekankan bahwa prioritas utama Jerman haruslah kepentingan rakyatnya sendiri, bukan perang di luar negeri yang dianggapnya tidak relevan dengan keamanan nasional.
Pemerintah pusat di bawah Kanselir Friedrich Merz tetap mempertahankan kebijakan dukungan terhadap Ukraina, sementara lembaga Uni Eropa dan Bundesrat masih menjadi penentu utama kebijakan luar negeri dan sanksi internasional.















