Sumbawanews.com,- Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China kini tak lagi sekadar soal kecepatan pengembangan model canggih, melainkan perang strategis yang berlangsung diam-diam. Para pakar AS memperingatkan bahwa Beijing memperluas pengaruhnya melalui tiga pendekatan senyap: menyerap kemampuan model AI Amerika, menyebarkan model sumber terbuka berbiaya rendah, serta memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi dan keamanan nasional. Peringatan ini muncul menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington untuk bertemu Presiden AS Donald Trump, di mana AI diprediksi menjadi salah satu isu utama pembahasan. Laporan dari Los Angeles Times dan Fox News Digital mengungkap bahwa meski kedua negara telah sepakat membahas keamanan AI sejak kunjungan Trump ke Beijing pada musim semi, kemajuan negosiasi berjalan lambat.
Pakar dari Foundation for Defense of Democracies, Leah Siskind, menolak istilah “perlombaan” untuk menggambarkan persaingan ini, dan menggantinya dengan metafora “perang di banyak front”—di mana AS menang di satu area, tetapi kalah di yang lain. Salah satu senjata utama China adalah model AI sumber terbuka yang murah bahkan gratis, yang kini mampu bersaing secara teknis dengan produk AS namun dengan biaya operasional jauh lebih rendah. Siskind mempertanyakan bagaimana perusahaan AS bisa bersaing dengan teknologi yang ditawarkan secara cuma-cuma, sekaligus mengkhawatirkan potensi adanya sensor pemerintah atau kerentanan tersembunyi dalam model-model tersebut. Pakar China Gordon Chang membandingkan strategi ini dengan dominasi China di industri panel surya, di mana harga murah dan ketersediaan luas digunakan untuk menguasai pasar global hingga mengokohkan posisi industri domestik.
Di luar biaya, perhatian utama AS tertuju pada teknik “knowledge distillation”—proses di mana model AI yang lebih kecil menyerap kemampuan dari model yang lebih besar. Meski teknik ini legal dan umum dalam penelitian AI, AS menduga perusahaan China menggunakannya secara agresif untuk mengekstraksi keunggulan eksklusif dari model-model canggih buatan Amerika. FBI, NSA, dan CISA telah mengeluarkan peringatan keamanan siber yang menuduh pengembang AI China melakukan distilasi terhadap model-model AS. Contoh yang disorot adalah kemunculan DeepSeek pada 2025, yang mampu menunjukkan performa kompetitif dengan sumber daya komputasi jauh lebih kecil dibandingkan pesaing AS. Beijing membantah tuduhan ini, menyatakan bahwa distilasi adalah praktik standar di industri global, dan menuduh Washington berusaha mempertahankan monopoli teknologi AI. Perbedaan ini mencerminkan semakin kaburnya batas antara inovasi teknis dan persaingan geopolitik.














