Sumbawanews.com,- Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kontingen Indonesia mencatat sejarah di Asian Games 2026 di Jepang dengan meraih lima medali emas, sebelas perak, dan dua puluh tiga perunggu—melebihi target awal emas yang dipasang. Prestasi ini diwarnai sejumlah rekor impresif: Rahmat Erwin Abdullah memecahkan rekor dunia, Made Rita Kusuma Dewi menghancurkan rekor Asian Games, dan Nurisa Dian Ashrifah menjadi atlet panahan Indonesia pertama yang menyabet emas di ajang tersebut. Di bulutangkis, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin merebut emas ganda putra, sementara Tim Beregu Putra kembali menjadi yang terbaik setelah 28 tahun absen di puncak podium.
Pencapaian ini didukung oleh insentif finansial besar dari pemerintah. Peraih medali emas Asian Games 2026 menerima bonus sebesar Rp3 miliar—hampir dua kali lipat dari bonus Rp1,575 miliar di edisi sebelumnya. Kebijakan serupa diterapkan di SEA Games 2025, di mana atlet perorangan peraih emas mendapat Rp1 miliar, naik dari Rp525 juta di SEA Games 2023. Pemerintah juga memastikan kesetaraan bagi atlet difabel, dengan bonus ASEAN Para Games 2025 disamakan besarnya dengan SEA Games 2025.
Presiden Prabowo Subianto secara langsung menyerahkan bonus kepada para atlet di Istana Negara pada 8 Januari 2025, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengapresiasi prestasi olahraga. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, yang mengepalai Kabinet Merah Putih, juga memimpin pengukuhan tim Indonesia yang terdiri dari 430 atlet dan 145 ofisial dari 35 cabang olahraga untuk bertanding di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Namun, di balik sukses ini, anggaran olahraga di APBN masih tergolong minim. Meski bonus menjadi pemicu motivasi kuat, pembinaan jangka panjang dan pengembangan infrastruktur olahraga masih terhambat oleh keterbatasan dana. Jika anggaran Kemenpora ditingkatkan secara signifikan, pembinaan berkelanjutan di berbagai cabang olahraga bisa berjalan optimal, mengurangi risiko pembatalan program, dan membuka peluang lebih besar bagi atlet Indonesia untuk bersaing di level global.















