Sumbawanews.com,- Ruang siber Indonesia mengalami serangan digital masif sebanyak 257,97 juta kali sejak Januari hingga Juni 2026, meningkat 93,33 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencatat 133,43 juta serangan. Rata-rata, sistem nasional mengalami 16 serangan per detik, dengan pelaku fokus pada upaya merebut hak akses administrator dan mencuri data sensitif. Laporan dari platform AwanPintar.id menyebut taktik peretas kian terorganisir, memanfaatkan kelemahan sistem akibat percepatan transformasi digital, termasuk penggunaan cloud, AI, dan transaksi online.
Ancaman paling mengkhawatirkan adalah lonjakan upaya peretas untuk mendapatkan hak akses administrator, yang melonjak dari 2,76 persen pada 2025 menjadi 43,65 persen pada semester pertama 2026. Serangan ini menjadi pintu masuk utama untuk penyebaran ransomware, pencurian data nasabah, dan sabotase infrastruktur. Di sisi lain, upaya pembocoran informasi sensitif juga naik menjadi 13,97 persen, dengan teknik brute force tetap menjadi senjata andalan pelaku.
Peta asal serangan menunjukkan dominasi peretas dari Tiongkok (21,94 persen) dan Amerika Serikat (10,83 persen), namun munculnya titik asal baru dari dalam negeri menjadi sorotan. Banyuwangi melonjak dari 0,01 persen menjadi 4,53 persen, sementara Tangerang naik dari 0,03 persen menjadi 3,46 persen, mengindikasikan banyak perangkat domestik yang telah dikompromikan dan dijadikan botnet. Malware DoublePulsar Backdoor mendominasi 99,28 persen kasus pencurian kredensial.
Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, mendesak seluruh organisasi segera beralih dari keamanan konvensional ke pendekatan adaptif berbasis risiko. Ia menekankan pentingnya deteksi dini, manajemen kerentanan, autentikasi multifaktor, dan enkripsi data untuk meminimalkan risiko kerugian finansial dan reputasi.















