Sumbawanews.com,- Di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Indonesia tertinggal 0-2 dari China di final beregu putra Asian Games 2026, setelah kekalahan Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Namun, Alwi Farhan bangkit dengan kemenangan 23-21, 15-21, 21-16 atas lawannya, menyelamatkan nyawa tim. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kemudian menyamakan kedudukan 2-2 usai mengalahkan He Jiting/Liu Yi dengan skor 23-21, 21-10. Di laga penentu, Moh Zaki Ubaidillah, baru berusia 19 tahun, menaklukkan Weng Hong Yang dengan skor 23-21, 21-13 setelah sempat tertinggal 16-20 di gim pertama, membawa Indonesia menang 3-2 dan merebut emas beregu putra—pertama kalinya dalam 28 tahun.
Kemenangan ini menjadi balasan manis atas kegagalan Indonesia di Thomas Cup 2026, di mana tim sama-sama kalah dari China dan Prancis, bahkan sempat mengalami kekalahan terburuk dalam sejarah keikutsertaannya. Di laga itu, Alwi Farhan dan Moh Zaki Ubaidillah pernah duduk di bangku cadangan, menyaksikan kehancuran. Kini, keduanya menjadi pahlawan. Alwi, yang sebelumnya kalah dari Prancis karena tekanan, tampil tanpa rasa takut. Leo/Daniel, yang baru kembali berpasangan setelah dipisah pada 2024, membuktikan kekompakan mereka di momen paling krusial. Ubed, sang remaja, menunjukkan bahwa kematangan bukan soal usia, tapi mental.
Indonesia menaklukkan China—negara yang dianggap paling sulit dikalahkan—setelah sebelumnya mengalahkan Malaysia dan Thailand di perjalanan menuju final. Level kompetisi di Asian Games 2026 diakui hampir setara dengan Thomas Cup, hanya tanpa kehadiran kekuatan Eropa seperti Prancis dan Denmark. Dengan kemenangan ini, Indonesia tidak lagi hanya dianggap favorit. Mereka terbukti sebagai juara sejati, mengukir sejarah baru setelah dua dekade lebih menanti emas beregu putra.
Perkenalan ulang telah terjadi. Bukan sekadar bangkit, tapi bangkit dengan cara yang menggetarkan. Indonesia kembali ditakuti.















