Sumbawanews.com,- Mantan pemain Timnas Indonesia Greg Nwokolo menegaskan bahwa pemain tidak perlu selalu meminta maaf kepada suporter setiap kali tim tidak menang. Pernyataan itu ia sampaikan dalam kanal YouTube pribadinya pada Kamis, 24 September 2026, menyikapi reaksi sebagian suporter setelah Timnas Indonesia bermain imbang 1-1 melawan Singapura dalam laga terakhir Grup A Piala AFF 2026 pada Agustus lalu.
Greg, yang kini aktif sebagai pundit sepak bola, menekankan bahwa pertandingan pada dasarnya memiliki dua kemungkinan hasil: menang atau kalah. Ia menilai, dukungan suporter seharusnya konsisten—diberikan sebelum, selama, dan setelah pertandingan, tanpa syarat. “Ini game. Pertandingan. Ada menang dan ada kalah. Tidak selamanya harus menang. Suporter harus fair dong,” ujarnya. Ia pun menyarankan bagi mereka yang tidak siap menerima kekalahan, lebih baik menyaksikan laga dari rumah daripada memaksa pemain meminta maaf di stadion.
Pernyataan Greg kembali menjadi sorotan menjelang laga ulangan antara Indonesia dan Singapura di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat, 25 September 2026, pukul 20.00 WIB. Pertandingan ini menjadi pembuka Grup A Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026, sekaligus momen pertama kedua tim bertemu tujuh pekan setelah laga Piala AFF 2026.
Respons terhadap pandangan Greg pun bermunculan di media sosial. Sejumlah netizen mendukung sikapnya, seperti @gian_qiu_qiu yang menulis, “Mmg ada benarnya sih…klu pertandingan menang trus maana enak…masa iya smua klub menang semua biar gk minta maaf.” Sementara @nwb.noob menambahkan, “iya bjir namanya game ada menang ada kalah supporter indo maunya menang mulu.” Di sisi lain, @laurens_edwin menilai antusiasme suporter penting, tetapi jangan sampai berubah menjadi beban bagi pemain.
Sementara itu, di luar konteks perdebatan suporter, Timnas Malaysia membuka perjalanan di FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Bangladesh di stadion yang sama, menunjukkan dinamika berbeda di grup yang sama. Laga Indonesia vs Singapura kini menjadi fokus utama, bukan hanya karena rivalitas olahraga, tetapi juga karena menjadi ujian bagi hubungan antara tim dan pendukungnya di tengah tekanan ekspektasi tinggi.















