Sumbawanews.com,- Pada usia 29 tahun, Keziah Veendorp, mantan kapten Timnas Belanda U-17 dan bek tengah yang pernah dikaitkan dengan klub-klub besar Eropa seperti Ajax Amsterdam, Paris Saint-Germain, AS Monaco, dan Inter Milan, kini menjalani kehidupan jauh dari sorotan lapangan. Ia memilih fokus pada keluarga dan bisnis toko barang bekas bernama Kringloopwinkel Vindhet di Kropswolde, Groningen, Belanda, yang resmi beroperasi sejak 2026. Pemain kelahiran Sappemeer, 17 Februari 1997, yang sempat menjadi bagian dari skuad Belanda U-17 yang mencapai final Piala Eropa U-17 2014, kini mengelola usaha bersama istrinya, Djanisha, menjual pakaian, furnitur, peralatan dapur, dan dekorasi rumah bekas dengan harga terjangkau—kegemaran yang sudah ia tekuni sejak masa aktif sebagai pesepak bola.
Veendorp memulai karier profesionalnya di FC Groningen sebelum pindah ke FC Emmen pada 2017, di mana ia membantu tim meraih gelar juara Eerste Divisie pada musim 2021/2022. Karier internasionalnya membawanya ke Bengaluru FC di India pada 2023, lalu ke Hanoi FC di Vietnam pada 2024, meski durasi di sana singkat. Ia kembali ke Belanda pada Januari 2025 untuk bergabung dengan Roda JC, sebelum berpisah pada akhir musim. Setelah itu, ia tidak lagi menandatangani kontrak profesional, tetapi tetap bermain sepak bola secara amatir bersama VV Hoogeveen untuk musim 2026/2027.
Meski memiliki garis keturunan Indonesia dari kakek dan neneknya di Pulau Saparua, Maluku, dan pernah menjadi topik pembicaraan di Indonesia sekitar 2019 sebagai calon pemain keturunan yang berpotensi memperkuat Timnas Indonesia U-23 menjelang Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, keinginannya untuk menjadi warga negara Indonesia dan membela Garuda Muda tidak pernah terwujud. Ia tetap memilih jalur karier di Eropa, hingga akhirnya memutuskan banting setir ke dunia usaha yang lebih stabil dan bermakna secara pribadi.
Sambutan positif masyarakat Groningen terhadap Vindhet, sebagaimana dilaporkan RTV Midden-Groningen pada 24 Juni 2026, menjadi bukti bahwa keputusannya bukan sekadar pelarian, melainkan transformasi hidup yang matang. Dari julukan “The Next Virgil van Dijk” hingga menjadi pemilik toko yang menjual kenangan dalam bentuk barang bekas, Veendorp menemukan makna baru—bukan di atas lapangan, tapi di antara barang-barang yang diberi kehidupan kembali.















