Sumbawanews.com,- Pangkalan udara bersama antara China dan Laos, yang terletak di Ban Keun sekitar 50 kilometer utara Vientiane, telah diresmikan pada September 2026 meskipun pembangunannya belum selesai. Fasilitas ini menjadi pangkalan militer pertama China di luar negeri yang fokus pada kekuatan udara, dengan landasan pacu sepanjang 2.000 meter yang masih memiliki ruang untuk diperpanjang hingga 1.000 meter, berpotensi menampung pesawat pengebom. Pusat Dukungan dan Pelatihan Bersama China-Laos serta Akademi Penerbangan Persahabatan China-Laos dibangun untuk meningkatkan pelatihan pilot Laos, dengan Beijing menegaskan bahwa fasilitas ini tidak ditujukan untuk menghadapi negara mana pun dan beroperasi berdasarkan prinsip saling menghormati dan kesetaraan.
Citra satelit dari Vantor pada 30 September 2026 menunjukkan konstruksi masih berlangsung di sejumlah bagian fasilitas, termasuk jalur pergerakan pesawat dan area parkir yang mampu menampung hingga 24 pesawat. Analisis dari Associated Press dan Institute for the Study of War menyatakan bahwa fasilitas ini belum mampu mendukung operasi tempur besar Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China, namun lokasinya dianggap strategis sebagai jalur alternatif menuju Laut China Selatan dan sekitar Vietnam. Vietnam memandang proyek ini sebagai upaya memperkuat pengaruh China di Laos, meski belum melihatnya sebagai sarana operasi tempur utama saat ini. Thailand, yang berbatasan langsung dengan lokasi pangkalan, menyatakan tidak menganggapnya sebagai ancaman, tetapi tetap memantau perkembangannya sebagai bagian dari penilaian keamanan nasional.
Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa fasilitas ini sesuai hukum nasional kedua negara, hukum internasional, dan praktik internasional, serta mendukung perdamaian dan stabilitas kawasan. Surat kabar Global Times mengutip pakar yang menyatakan tidak akan ada kesatuan pasukan China yang ditempatkan secara mandiri di sana, dan China tidak memiliki hak eksklusif atas penggunaannya. Pemerintah Laos belum memberikan tanggapan resmi mengenai mekanisme pengelolaan atau rencana penggunaan fasilitas tersebut. Analis dari International Institute for Strategic Studies, Evan Laksmana, menilai manfaat utama bagi China bukan pada kemampuan tempur, melainkan pada pengalaman operasional di luar negeri, termasuk akses logistik melalui jalur kereta api Belt and Road yang menghubungkan Yunnan dengan Vientiane. Angkatan Udara Laos saat ini hanya memiliki tujuh pesawat tempur, dan kerja sama ini berpotensi mempermudah aksesnya terhadap pesawat tempur buatan China di masa depan. Pakar Greg Poling dari CSIS menyimpulkan bahwa proyek ini lebih merupakan peluang bersama yang dimanfaatkan kedua negara, bukan bagian dari rencana strategis besar China.















