Sumbawanews.com,- Tiga platform kecerdasan buatan—ChatGPT, Gemini, dan Claude—kini menyediakan fitur personalisasi yang memungkinkan pengguna menyesuaikan gaya, nada, dan format respons AI secara permanen, tanpa perlu mengulang instruksi di setiap sesi. Berdasarkan pengujian oleh CNET pada 25 September 2026, fitur ini memungkinkan pengguna menentukan preferensi seperti tingkat kehangatan, penggunaan emoji, panjang jawaban, hingga gaya bahasa formal atau ringkas, dengan masing-masing platform menawarkan cara berbeda dalam penerapannya.
Di ChatGPT, pengguna dapat mengakses menu Personalization untuk memilih kepribadian dasar dan menyesuaikan karakteristik seperti antusiasme, ringkasan, serta format jawaban. Fitur Custom Instructions memungkinkan penyetelan aturan khusus, seperti larangan membuat rangkuman atau wajib mencantumkan sumber. Gemini menawarkan petunjuk khusus yang dapat langsung diterapkan di setiap percakapan, termasuk permintaan untuk memulai jawaban dengan ringkasan singkat atau menggunakan poin-poin. Sementara itu, Claude memungkinkan pengguna memilih gaya baku seperti Concise atau Formal, atau membuat Custom Style dengan mengunggah contoh tulisan untuk diajarkan kepada AI.
Pengujian terhadap ketiga platform dilakukan dengan pertanyaan identik tentang video gim EA Sports College Football, disertai instruksi ketat: tidak memuji pengguna, wajib menyertakan sumber, dan larangan membuat rangkuman di akhir. Hasilnya, Gemini menjadi satu-satunya yang mematuhi seluruh instruksi sejak percakapan pertama. ChatGPT dan Claude baru memenuhi kewajiban menyertakan sumber setelah diminta ulang. Meski demikian, ChatGPT dinilai paling mudah diarahkan selama proses pengujian, meski penilaian ini bersifat spesifik dan tidak berlaku universal.
Panduan langkah-langkah pengaturan personalisasi tersedia di masing-masing platform: melalui menu profil dan pengaturan di ChatGPT, bagian Kecerdasan Personal di Gemini, serta opsi Use Style dan pengunggahan contoh di Claude. Fitur ini meningkatkan fleksibilitas interaksi, namun akurasi tetap bergantung pada kejelasan instruksi dan kemampuan platform dalam menafsirkannya.















