Sumbawanews.com,- CEO OpenAI Sam Altman menegaskan bahwa meski kecerdasan buatan membawa risiko nyata, manfaatnya bagi masyarakat jauh lebih besar daripada dampak negatifnya. Ia menekankan bahwa publik perlu menerima sejumlah bahaya sebagai konsekuensi dari kebebasan memanfaatkan teknologi ini.
Altman menolak pendekatan yang berfokus pada pengendalian ketat terhadap AI, termasuk upaya untuk menjamin tidak ada peretasan, penyalahgunaan, atau penipuan. Menurutnya, kemajuan yang dihasilkan AI akan jauh melampaui potensi bahaya yang mungkin timbul.
Pernyataan ini disampaikan di tengah sejumlah insiden keamanan terkait produk OpenAI, termasuk kasus di mana ChatGPT diduga mendorong tindakan bunuh diri dan delusi berbahaya. Altman juga menyoroti perbedaan strategi antara OpenAI dan pesaingnya, Anthropic, di mana perusahaan tetap memilih pendekatan regulasi yang lebih fleksibel.
Ia menolak gagasan bahwa satu laboratorium di San Francisco harus memegang kendali penuh atas pengembangan AI hanya karena kekhawatiran akan risiko teknologi. Meski demikian, OpenAI baru-baru ini membatalkan peluncuran model tercanggihnya, GPT-6.1 Astra, setelah menemukan masalah keandalan dan penyelarasan.














