Sumbawanews.com,- Amerika Serikat dikabarkan sedang mempertimbangkan penggunaan GBU-43/B MOAB, bom konvensional terbesar dalam arsenelnya, sebagai opsi serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran. Rencana ini, yang disusun oleh militer AS dan diungkap oleh Al Jazeera pada 15 Oktober 2026, menjadi salah satu pilihan jika Presiden Donald Trump memutuskan melancarkan kembali operasi militer terhadap Teheran. Namun, para pakar mempertanyakan efektivitas senjata itu menghadapi sasaran bawah tanah yang dilindungi lapisan beton tebal dan pegunungan.
MOAB, dengan berat 9,8 ton dan daya ledak 8,5 ton, dirancang untuk menghancurkan struktur permukaan melalui gelombang tekanan hebat. Senjata ini pernah digunakan sekali pada April 2017 di Afghanistan untuk menghancurkan jaringan terowongan ISIS-Khorasan, dengan klaim 94 militan tewas. Namun, fasilitas nuklir Iran seperti Fordow dan kompleks di Pickaxe Mountain terletak jauh di bawah tanah—di luar jangkauan kemampuan MOAB untuk menembus. Pakar militer Elijah Magnier menegaskan, bom ini tidak dirancang untuk menembus lapisan geologis tebal, sehingga penggunaannya di Iran lebih mirip pertunjukan kekuatan daripada strategi militer yang efektif.
Untuk menembus bunker dalam, AS memiliki GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, yang mampu menembus hingga 61 meter ke dalam tanah. Namun, bahkan senjata ini tidak menjamin keberhasilan total dalam melumpuhkan seluruh infrastruktur nuklir Iran. Para analis memperingatkan bahwa penggunaan MOAB justru berisiko memicu eskalasi luas: Iran dikhawatirkan akan membalas dengan menyerang infrastruktur digital regional, termasuk kabel komunikasi dan pusat data di Uni Emirat Arab, atau menangkap tentara AS jika terjadi serangan darat. Ancaman serupa telah dikeluarkan oleh penasihat keamanan IRGC, Mohammad Reza Naghdi, yang menyatakan pasukan AS akan “terpaksa mengibarkan bendera putih” jika terlibat pertempuran darat.
Sementara itu, Iran terus memperkuat pertahanan, menimbun persenjataan, dan mengonsolidasikan dukungan domestik dalam persiapan kemungkinan perang berikutnya. Dalam konteks ini, penggunaan MOAB tidak hanya dipertanyakan dari sisi militer, tetapi juga dari sisi geopolitik—karena bisa memperpanjang konflik tanpa mencapai tujuan utama: menghancurkan kemampuan nuklir Iran.















