Home Berita Internasional AS Bangun Pangkalan Militer Mandiri Berenergi Nuklir Mikro untuk Hadapi Perang Skala...

AS Bangun Pangkalan Militer Mandiri Berenergi Nuklir Mikro untuk Hadapi Perang Skala Besar

Sumbawanews.com,- Pentagon tengah membangun pangkalan militer di daratan Amerika Serikat yang mampu beroperasi mandiri selama 90 hari tanpa bergantung pada infrastruktur sipil, sebagai respons terhadap ancaman perang besar yang bisa melumpuhkan jaringan listrik, komunikasi, dan rantai pasok. Inisiatif ini, bernama FORTRESS America, diumumkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada 30 September 2026, dan dirancang untuk memastikan kelangsungan operasi militer meski infrastruktur domestik rusak akibat serangan siber, rudal jarak jauh, atau pesawat nirawak. Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan ketergantungan militer pada jaringan listrik sipil kini dianggap sebagai kerentanan strategis yang tak bisa diabaikan. Target utamanya: setiap pangkalan utama di AS harus mampu menyediakan listrik, air, bahan bakar, dan komunikasi sendiri selama tiga bulan penuh.

Salah satu pilar utama program ini adalah pengembangan reaktor nuklir mikro dan jaringan listrik mikro (microgrid) yang dapat beroperasi terpisah dari jaringan nasional. Teknologi ini, yang sebelumnya telah dikembangkan Angkatan Darat AS bersama Defense Innovation Unit, kini dipercepat implementasinya melalui kemitraan dengan lima perusahaan, dengan rencana pemasangan awal mulai 2028. Selain energi, Pentagon juga memperkuat cadangan strategis berupa amunisi, bahan bakar, suku cadang, komponen elektronik, dan perlengkapan medis, dengan memastikan setiap kebutuhan kritis memiliki minimal dua jalur pasokan independen. Untuk memperluas kapasitas produksi, pemerintah menyiapkan Civil Reserve Manufacturing Network, yang memungkinkan pabrik sipil beralih memproduksi peralatan militer dalam keadaan darurat.

Program FORTRESS — singkatan dari Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply, and Survivability — menandai perubahan mendasar dalam strategi pertahanan AS, yang selama puluhan tahun mengasumsikan daratan Amerika relatif aman dari serangan langsung. Hegseth menekankan bahwa keberadaan Samudra Atlantik dan Pasifik tidak lagi cukup sebagai pelindung, mengingat kemajuan teknologi persenjataan yang memungkinkan musuh menyerang jaringan energi dan infrastruktur dalam negeri. Meski belum diumumkan secara terbuka, biaya total, jadwal penuh, dan jumlah pangkalan yang telah memenuhi standar 90 hari masih dalam tahap pengembangan.

Previous articlePercepat Penanganan Karhutla, TNI Semai 11.2 Ton Garam Dukung OMC di Kalimantan
Next articleHarry Kane Raih Ballon d’Or 2026, Ucapkan Terima Kasih kepada Tottenham dan Keluarga