Home Berita Internasional Amerika Tak Punya Tombol Matikan AI Militer NATO, Tegas Palantir

Amerika Tak Punya Tombol Matikan AI Militer NATO, Tegas Palantir

Sumbawanews.com,- Perusahaan teknologi AS, Palantir Technologies, menegaskan tidak memiliki mekanisme apa pun untuk mematikan sistem kecerdasan buatan Maven Smart System yang digunakan NATO, meski ada kekhawatiran di Eropa terhadap ketergantungan pada teknologi militer Amerika. Pernyataan ini disampaikan Wakil Presiden Eksekutif Palantir untuk Inggris dan Eropa, Louis Mosley, dalam wawancara dengan Reuters di Brussels pada Rabu (21/10/2026). Ia menegaskan, “Tidak ada kill switch. Tidak ada kemampuan bagi Palantir ataupun pemerintah AS untuk masuk dan mematikannya.”

Sistem Maven, yang diakuisisi NATO melalui NATO Communications and Information Agency (NCIA) pada 25 Maret 2025, telah mencapai kemampuan operasional penuh pada 22 Juni 2026 dan mendapat akreditasi keamanan penuh untuk digunakan di jaringan rahasia aliansi pada 12 Agustus 2026. Data operasional sistem ini disimpan di server dan pusat data milik NATO, bukan pada infrastruktur Palantir, seperti ditegaskan oleh Kolonel Arnel David, Direktur Task Force Maven NATO, dalam keterangan pada Juni 2026. Pengaturan ini memperkuat klaim bahwa kendali operasional sepenuhnya berada di tangan NATO.

Meski demikian, tidak ada audit teknis independen yang memverifikasi secara publik bahwa tidak ada akses jarak jauh tersembunyi atau backdoor dalam arsitektur sistem. Pernyataan Palantir bersifat penjelasan perusahaan, bukan bukti teknis yang dapat diuji secara terbuka. Perdebatan ini muncul setelah kontroversi pembatasan layanan Starshield untuk Ukraina, yang memicu kekhawatiran di Eropa tentang kedaulatan teknologi dan risiko ketergantungan pada penyedia asing.

NATO menempatkan Maven di Supreme Headquarters Allied Powers Europe (SHAPE) di Mons, Belgia, sebagai bagian integral dari pengolahan intelijen, analisis medan perang, dan pengambilan keputusan strategis. Platform ini mengandalkan machine learning, model bahasa besar, dan AI generatif untuk mengintegrasikan data dari sensor, pengintaian, dan sistem komando. Namun, tanpa transparansi teknis lengkap, kepercayaan terhadap sistem tetap bergantung pada pernyataan resmi, bukan verifikasi mandiri.

Previous articleChelsea Buru Gelandang Brighton Yasin Ayari untuk Bursa 2027
Next articleDPR Desak Bea Cukai Gali Jaringan Narkoba hingga Pemodal