Home Serba Serbi Tekno Alasan Ilmiah di Balik Kelangkaan Kanibalisme Manusia

Alasan Ilmiah di Balik Kelangkaan Kanibalisme Manusia

Sumbawanews.com,- Studi terbaru dari Universitas Wroclaw di Polandia dan Universitas Charles di Republik Ceko mengungkap mengapa praktik kanibalisme, meski pernah terjadi dalam sejarah manusia, tidak pernah bertahan lama. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal *Proceedings of the National Academy of Sciences* (PNAS) menggunakan pendekatan matematis untuk mengukur risiko dan manfaat konsumsi daging manusia. Meski daging manusia menyediakan nutrisi dan energi seperti daging hewan lain, terutama dalam kondisi ekstrem, model matematis menunjukkan bahwa praktik ini justru membawa ancaman kepunahan bagi kelompok yang melakukannya.

Risiko utama berasal dari penyebaran penyakit prion, seperti kuru, yang menular melalui konsumsi jenazah anggota spesies yang sama. Penyakit ini tidak dapat dinetralisir dengan memasak dan menyebar cepat dalam komunitas yang terbiasa memakan sesama manusia. Peneliti Petr Tureček menjelaskan bahwa dampak epidemiologis dari penyakit mematikan ini jauh lebih merusak daripada manfaat kalori yang diperoleh, sehingga secara evolusioner, kelompok kanibal cenderung musnah. Contoh nyata terlihat pada suku Fore di Papua Nugini, di mana wabah kuru berhenti setelah ritual pemakaman yang melibatkan konsumsi jenazah dihentikan.

Penelitian juga menegaskan bahwa kanibalisme hanya mungkin bertahan dalam tiga kondisi sangat terbatas: saat mengonsumsi individu yang sudah mati, ketika daging dimasak untuk keamanan, dan tanpa memakan individu yang sebelumnya juga seorang kanibal. Di luar itu, risiko infeksi menjadi terlalu tinggi. Para peneliti menyimpulkan bahwa tabu budaya terhadap kanibalisme bukan sekadar larangan moral, tetapi mekanisme perlindungan biologis yang efektif. Tanpa tabu ini, populasi manusia berisiko hancur akibat wabah yang tidak bisa diobati.

Meski demikian, peneliti mengakui kemungkinan faktor lain seperti penggunaan kanibalisme sebagai alat teror atau penegakan status, yang belum sepenuhnya dijelaskan dalam model ini.

Previous articleJambore Pramuka Dunia Pertama Berlangsung di London pada 1920
Next articleMancini Kembali Latih Italia, Siap Hadapi Tantangan dan Kritik