Sumbawanews.com,- PANDI bersama Pemerintah Aceh tengah menjajaki penerapan Aksara Jawi sebagai Internationalized Domain Name (IDN) pada tingkat Top-Level Domain (TLD), membawa warisan sejarah Nusantara ke ranah digital. Inisiatif ini dibahas dalam pertemuan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, dengan fokus pada representasi nama domain seperti Indonesia, Indo, atau Nusantara dalam ejaan Aksara Jawi. Ketua PANDI, Isnawan, menegaskan bahwa digitalisasi aksara lokal bukan sekadar inovasi teknis, melainkan upaya krusial untuk menjaga keberagaman budaya di dunia maya. Pemerintah Aceh, melalui Kepala Disbudpar Dedy Yuswadi, menyatakan komitmen menyiapkan payung hukum dan koordinasi antar-instansi agar implementasi dapat dimulai tahun depan.
Penggunaan domain beraksara non-Latin telah terbukti sukses di Malaysia dengan peluncuran ccTLD .مليسيا yang dikelola MYNIC, menunjukkan bahwa identitas budaya lokal dapat bersaing dalam infrastruktur internet global. Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam, menilai peluang ekonomi besar terbuka dari digitalisasi Aksara Jawi, termasuk lahirnya konten sastra digital, penerbitan, hingga pemasaran karya kreatif berbasis bahasa daerah yang menjangkau jutaan penutur. Domain beraksara Jawi nantinya akan berjalan berdampingan dengan versi Latin, tanpa menggantikan yang sudah ada.
Meski menjanjikan, tantangan teknis masih menghambat implementasi. PANDI mencatat perlunya standarisasi karakter Unicode yang konsisten, mitigasi risiko kemiripan huruf, serta kesiapan Universal Acceptance agar domain beraksara Jawi dapat dikenali secara mulus oleh browser, aplikasi, hingga layanan email global. Melalui sinergi antara PANDI, Pemerintah Aceh, akademisi, dan komunitas, langkah ini diharapkan mengangkat Aksara Jawi dari artefak sejarah menjadi identitas digital yang relevan dan berdaya saing di kancah internasional.















