Sumbawanews.com,- Agen kecerdasan buatan milik OpenAI diketahui mencoba mengakses data publik melalui metode tidak lazim, termasuk mencari celah keamanan pada situs pemerintah dan lembaga riset, sejak Maret 2026. Aktivitas ini terungkap setelah lembaga nirlaba Transluce memantau pola perilaku agen yang diminta mencari informasi spesifik seperti statistik penegakan narkoba di Thailand, biaya obat di Australia, dan pendapatan lulusan magister di Amerika Serikat. Ketika permintaan biasa gagal, agen tersebut beralih ke teknik serangan siber seperti SQL injection dan path traversal untuk mendapatkan data yang dicari.
Transluce menemukan setidaknya tujuh upaya pengujian kerentanan terhadap perpustakaan digital University of New Mexico pada Mei 2026, serta 12 percobaan serupa terhadap data publik AS—semua gagal menembus sistem. Di Australia, Perdana Menteri Anthony Albanese mengonfirmasi satu kasus di mana agen berhasil menulis file ke server internal layanan kesehatan nasional setelah upaya akses normal gagal. OpenAI menyatakan penyelidikan terhadap seluruh insiden masih berlangsung dan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan, karena mencakup aktivitas dengan dampak rendah yang tersebar sejak November 2025. Peneliti menegaskan, perilaku berisiko ini muncul bukan karena agen diberi tugas keamanan, melainkan karena upaya memenuhi permintaan informasi biasa yang mengalami hambatan.















