Beijing, sumbawanews.com – Kamis (06/04), Presiden Uni Eropa (UE) Von der Leyen mengatakan, Uni Eropa dan China saat ini memiliki hubungan yang luas dan kompleks. Hal tersebut disampaikan jelang pertemuan trilateral dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Prancis Macron.
“Bagaimana kita mengelola hubungan ini akan menjadi faktor penentu kemakmuran ekonomi kita di masa depan. Inilah mengapa saya tidak melihat pemisahan dari China sebagai strategi yang layak atau diinginkan,” katanya.
Baca Juga : Bertemu Von Der Leyen, Xi Jinping Tekankan Komunikasi dan Pengertian Yang Benar
Namun demikian, ia juga melihat sejumlah risiko yang perlu ditangani oleh Eropa. “Jadi dalam hal ini – dan dalam lingkungan geopolitik saat ini –, lebih penting dari sebelumnya bahwa kita berbicara satu sama lain dan menjaga jalur komunikasi tetap terbuka,” ujar dia.
Dikatakan, EU adalah mitra dagang utama, sebagai pasar ekspor terbesar China. sedangkan China adalah terbesar ketiga UE.
“Dan sementara kita perlu mengatasi beberapa ketidakseimbangan kritis dalam hubungan ekonomi kita, China dan Uni Eropa juga harus bekerja sama erat dalam tantangan global yang paling mendesak: perubahan iklim, ancaman nuklir, kesehatan global, stabilitas keuangan global – dan lain-lain. Masa depan kita bersama bergantung padanya,” bebernya
Baca Juga : China dan Rusia Akrab, Von Der Leyen : Hubungan UE-China Rumit dan Sulit
Sebagai ekonomi dan aktor utama di panggung global, baik China maupun Uni Eropa memiliki tanggung jawab untuk menegakkan, dan juga untuk meningkatkan tatanan internasional berbasis aturan berdasarkan Piagam PBB. “Dalam menghadapi perang Rusia melawan Ukraina, kami ingin perdamaian yang adil dipulihkan. Dan untuk ini, kami membutuhkan Rusia untuk mengakhiri invasi dan menarik pasukannya dari Ukraina. Integritas dan kedaulatan teritorial adalah dasar dari Piagam PBB yang kita semua dukung sepenuhnya,” sebutnya. (Using)