Sumbawanews.com,- PSSI mulai mengalihkan fokus perburuan pemain keturunan Indonesia dari Belanda ke sejumlah negara lain, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Australia, Belgia, dan Spanyol. Perubahan strategi ini didorong oleh hambatan regulasi ketenagakerjaan dan imigrasi di Belanda, yang membuat naturalisasi pemain aktif di liga setempat menjadi kompleks. Staf Khusus Menteri Hukum RI, Noor Korompot, mengonfirmasi bahwa rekrutmen pemain naturalisasi dari Belanda kini tidak lagi menjadi prioritas, terutama karena aturan proteksionis KNVB dan persyaratan minimum penghasilan bagi pemain non-Uni Eropa yang menghambat kelangsungan karier klub. Meski demikian, peluang bagi pemain keturunan Belanda tetap terbuka, selama tidak mengganggu status profesional mereka di klub. Pemantauan PSSI kini diperluas ke liga-liga di luar Belanda untuk menemukan bakat diaspora yang memenuhi syarat FIFA dan hukum Indonesia.
Perubahan ini bukan karena kehabisan talenta, melainkan pertimbangan strategis terhadap keberlanjutan karier pemain. Di Jerman, misalnya, sistem liga yang stabil dan kebijakan imigrasi yang lebih terbuka menjadi daya tarik baru. Di Amerika Serikat, pertumbuhan sepak bola profesional dan jumlah besar komunitas keturunan Indonesia menawarkan potensi besar. Australia dan Belgia juga menjadi fokus karena keberadaan pemain berdarah Indonesia yang sudah berkompetisi di level tinggi. Spanyol, dengan basis akademi kuat dan banyak pemain muda keturunan, menjadi sasaran pemantauan intensif. Namun, proses naturalisasi tetap harus melewati prosedur ketat baik dari sisi FIFA maupun hukum nasional Indonesia.
Sementara itu, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, diminta untuk mempertimbangkan tiga pemain yang bersinar di Liga 1: Eliano Reijnders, Adam Alis dari Persib Bandung, dan Aryansyah Abdulmanan dari Persija Jakarta. Ketiganya dianggap memiliki potensi untuk segera dilirik dalam rencana jangka pendek timnas, terlepas dari perubahan fokus perburuan pemain keturunan ke luar negeri.















