Home Berita Daerah Menelusuri Sampah Maluk, Kuli Farm Temukan 90 Persen Sampah Masih Tercampur

Menelusuri Sampah Maluk, Kuli Farm Temukan 90 Persen Sampah Masih Tercampur

SUMBAWA BARAT, sumbawaNews.com – Persoalan pengelolaan sampah di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), masih menjadi tantangan serius. Hasil survei tim Kuli Farm selama delapan hari menemukan bahwa sekitar 90 persen sampah dari sejumlah titik pengambilan sampel masih tercampur antara sampah organik dan anorganik.

Temuan tersebut menjadi gambaran bahwa pemilahan sampah dari sumbernya belum berjalan optimal, termasuk pada sejumlah sektor usaha dan fasilitas pelayanan publik yang setiap hari menghasilkan sampah dalam jumlah cukup besar.

Survei yang dilakukan Kuli Farm ini bertujuan untuk mengidentifikasi timbulan sampah dari berbagai sumber sekaligus melihat sejauh mana sampah yang dihasilkan berpotensi dikelola dan dimanfaatkan kembali.

Berdasarkan hasil pengukuran tim di lapangan, timbulan sampah harian dari sejumlah sumber yang disurvei menunjukkan angka yang cukup signifikan. Sekolah menghasilkan sekitar 26 kilogram sampah per hari, rumah makan sekitar 28 kilogram, hotel sekitar 30 kilogram, serta sektor ritel yang mencakup Indomaret dan Alfamart sekitar 22 kilogram per hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pendidikan, usaha kuliner, perhotelan, dan perdagangan turut berkontribusi terhadap timbulan sampah harian di Kecamatan Maluk.

Namun, persoalan yang menjadi perhatian bukan semata-mata banyaknya sampah yang dihasilkan, melainkan masih tercampurnya berbagai jenis sampah sejak dari sumbernya.

Dalam pengamatan tim Kuli Farm, sampah sisa makanan, sayuran, dan material organik lainnya masih ditemukan bercampur dengan plastik serta sampah anorganik lainnya. Kondisi ini berpotensi menyulitkan proses pengolahan, mengurangi nilai ekonomis sampah yang masih dapat dimanfaatkan, serta meningkatkan jumlah sampah yang berakhir sebagai residu.

Pegiat lingkungan Kecamatan Maluk, Alimuddin, menegaskan bahwa pemilahan sampah perlu dimulai dari pihak yang menghasilkan sampah, termasuk pelaku usaha.

“Pelaku usaha seperti perhotelan dan ritel seharusnya memisahkan sampah dari sumbernya agar bisa diproses atau dikelola lebih lanjut,” ungkap Alimuddin.

Menurutnya, pemilahan sejak awal merupakan langkah mendasar dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Selain mempermudah proses pengangkutan dan pengolahan, langkah tersebut juga membuka peluang pemanfaatan sampah yang selama ini masih dianggap sebagai limbah.

Sampah organik, seperti sisa makanan dan sayuran, misalnya, dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan sebagai bahan dalam budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan melalui bank sampah.

Kuli Farm selama ini mendorong penerapan prinsip “Pilah, Olah, Manfaat” sebagai pendekatan pengelolaan sampah berbasis sumber. Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak langsung dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang sebagian masih dapat diolah dan memberikan manfaat ekonomi.

Dalam pelaksanaannya, Kuli Farm mendorong pengolahan sampah organik melalui pembuatan kompos dan budidaya maggot BSF, sedangkan sampah anorganik bernilai ekonomi dapat disalurkan melalui Bank Sampah Lestari.

Hasil survei selama delapan hari ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan bagi para pemangku kepentingan, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat, dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Maluk.

Kolaborasi berbagai pihak dinilai penting agar pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga mencakup pemilahan, pengolahan, serta pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Bagi Kuli Farm, perubahan sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Sebab, semakin banyak sampah yang dipilah dan diolah, semakin besar pula peluang untuk mengurangi residu yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Sampah yang dipilah memiliki peluang untuk diolah. Sampah yang diolah dapat memberikan manfaat. Karena itu, pengelolaan sampah yang berkelanjutan membutuhkan kesadaran bersama, dimulai dari sumbernya.

Previous articleDewa United vs Persija: Duel Puncak Klasemen Siap Meledak di Serang
Next articlePersib Bandung Hancurkan Melbourne Victory 2-0, Balsa Sekulic Borong Dua Gol
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik