Sumbawanews.com,- Bintang Real Madrid Kylian Mbappe meminta maaf secara terbuka setelah pernyataannya dalam sebuah siniar berbahasa Prancis yang menyebut mendiang pemimpin China Mao Zedong sebagai “diktator” memicu gelombang protes luas di China dan dampak komersial serius. Insiden ini terjadi pada akhir Oktober 2026, ketika potongan komentar Mbappe yang telah dihapus dari sumber aslinya tersebar di media sosial, menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat dan institusi China, di mana sosok Mao Zedong dihormati sebagai pendiri negara modern.
Mbappe mengakui bahwa ucapannya tidak dipikirkan matang-matang dan menyadari telah melukai perasaan masyarakat China serta komunitas Tiongkok di seluruh dunia. Di China, sindiran atau humor terhadap Mao Zedong—pemimpin yang memerintah dari 1949 hingga 1976—dianggap sangat sensitif dan tabu, sehingga reaksi publik terhadap pernyataan Mbappe berlangsung cepat dan tegas. Dampaknya langsung terasa di ranah bisnis: sejumlah merek besar China seperti Mengniu, Shanghai Milkground Food Tech, dan Eastroc Beverage menghentikan seluruh kemitraan dengan Mbappe. Saluran televisi nasional China juga menangguhkan siaran pertandingan La Liga yang melibatkan Real Madrid dan menghapus semua materi iklan yang menampilkan wajahnya.
Pemerintah China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa setiap ucapan yang merendahkan perasaan rakyat China akan mendapat penolakan tegas dari seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, Presiden LaLiga Javier Tebas segera menggelar pertemuan dengan Duta Besar China di Spanyol untuk menjaga hubungan strategis antara liga dan pasar China, menekankan bahwa insiden ini adalah tindakan individu, bukan sikap resmi klub atau kompetisi. Beberapa mitra global Mbappe, seperti On Holding, menyambut baik permintaan maafnya dan menegaskan rasa hormat terhadap China, sementara Lego dan Accor belum mengumumkan keputusan lanjutan.
Kontroversi ini menjadi krisis komersial terbesar dalam karier Mbappe, meski sebelumnya julukan “diktator” pernah digunakan media Eropa sebagai lelucon tentang pengaruhnya di ruang ganti Real Madrid—namun upaya menjadikannya bahan humor justru berujung pada konsekuensi diplomatik dan ekonomi yang tak terduga.















