Sumbawanews.com,- Seiring tekanan sanksi Barat akibat perang di Ukraina, Rusia mulai memindahkan sebagian aktivitas manufaktur dan pengembangan teknologi militer ke China. Temuan ini terungkap dalam laporan investigasi Center for Advanced Defense Studies (C4ADS) yang dirilis pada 22 Oktober 2026, dan diperkuat oleh pengungkapan intelijen Ukraina pada 26 Oktober 2026 tentang 30 unit peralatan industri asing—termasuk mesin manufaktur buatan China—yang digunakan dalam rantai produksi rudal balistik Rusia.
Perusahaan mikroelektronika Rusia, Element, yang telah dikenai sanksi AS sejak 2022, mulai merakit chip di China sejak 2024 dan mendirikan setidaknya empat anak perusahaan di negara itu. Element bahkan mengupayakan pelatihan bahasa Mandarin bagi karyawannya, menunjukkan komitmen memperluas operasional di China. Perusahaan ini juga memperoleh hak kekayaan intelektual dari Shijiazhuang Tonhe Electronics, perusahaan China, pada April 2026, meski belum ada bukti bahwa fasilitas di China memproduksi semikonduktor berspesifikasi militer.
Di sisi lain, StankoMashStroy, produsen mesin industri Rusia, merencanakan produksi mesin perkakas presisi tinggi di China melalui kemitraan dengan Baoji Machine Tool Group di Shaanxi. Pemilik perusahaan, Oleg Kochetkov, telah mendaftarkan Shaanxi Stermasi Technology di China, meski tahap operasional kerja sama ini belum dikonfirmasi. Mesin CNC yang dihasilkan menjadi kunci dalam pembuatan komponen kendaraan militer dan sistem persenjataan.
Kerja sama ini tidak berarti seluruh industri pertahanan Rusia telah dipindahkan ke China, tetapi menunjukkan pergeseran strategis: Moskow kini bergantung pada kapasitas manufaktur dan akses teknologi Beijing untuk mempertahankan produksi senjata. Ketergantungan ini semakin nyata seiring pembatasan akses teknologi dari negara-negara Barat, memaksa Rusia membangun jalur pasok alternatif di luar wilayahnya.















