Sumbawanews.com,- Sejak genosida dimulai pada Oktober 2023, setidaknya 54.468 anak di Gaza kehilangan satu atau kedua orang tuanya, sementara 64.000 perempuan kehilangan suami akibat serangan militer Israel. Data dari Kementerian Pembangunan Sosial Palestina menunjukkan bahwa banyak keluarga kini bertahan tanpa pelindung utama, dengan anak-anak hidup berpindah-pindah di tenda-tenda darurat, diasuh oleh kerabat yang juga menjadi janda dan hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Tiga bersaudara—Mariam (16), Aya (14), dan Jebril (12)—adalah salah satu dari ribuan yatim piatu yang kehilangan ibu mereka saat bom Israel menghancurkan tenda pengungsian mereka pada 19 Oktober 2025, sembilan hari setelah gencatan senjata berlaku. Sebelumnya, ayah mereka tewas dalam serangan 2014. Kini, mereka tinggal bergiliran di rumah dua bibi yang juga kehilangan suami dalam perang, dan harus berbagi sisa makanan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka sendiri dan keponakan-keponakan yang tak punya orang tua.
Di Deir al-Balah, Wafaa al-Attar, yang kini berusia 13 tahun, menjadi satu-satunya anggota keluarganya yang selamat setelah serangan udara pada 22 Februari 2024 menghancurkan rumah tempat ayah, ibu, dan keempat saudara kandungnya tewas. Saat itu, ia diminta ayahnya pergi mengisi daya ponsel di rumah paman. Ketika ia kembali, rumahnya sudah lenyap. Ia mengalami trauma mendalam, berhari-hari menangis, dan berulang kali bertanya, “Semuanya sekaligus?” Kini, ia tinggal bersama paman dan istrinya, yang berusaha menenangkannya dengan mengingatkan bahwa ayahnya pasti ingin melihatnya tetap kuat.
Kementerian Pembangunan Sosial Palestina memperingatkan bahwa anak-anak tanpa wali resmi—sekitar 3.000 orang—semakin rentan putus sekolah, menikah dini, atau terpaksa bekerja. Perempuan yang menjadi satu-satunya pencari nafkah harus memikul beban ganda: mencari makanan, mengasuh anak, dan menghadapi kehancuran infrastruktur tanpa akses ke layanan dasar. “Mereka tidak hanya kehilangan orang tua,” kata juru bicara kementerian Aziza al-Kahlout, “tapi juga masa kecil, keamanan, dan harapan.”















