Sumbawanews.com,- Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memuji transformasi industri pertahanan Turki sebagai “revolusi” yang bisa menjadi teladan bagi negara-negara anggota aliansi. Dalam kunjungannya ke fasilitas perusahaan elektronik pertahanan ASELSAN di Ankara pada 22 April 2026, Rutte secara terbuka menyatakan bahwa kemajuan Turki dalam membangun kemampuan produksi senjata mandiri dalam beberapa tahun terakhir merupakan fenomena luar biasa yang patut ditiru.
Turki, yang selama puluhan tahun mengandalkan impor persenjataan dari Amerika Serikat dan Eropa, kini telah berubah menjadi salah satu eksportir utama sistem militer di dunia. Produk-produknya mencakup drone tempur, kendaraan lapis baja, kapal perang, sistem pertahanan udara, dan teknologi elektronik militer. Ekspor senjata Turki telah tembus Rp180 triliun, menjadikannya salah satu pemain kunci di pasar pertahanan global.
Pengakuan NATO semakin diperkuat setelah Kanada, anggota G7 dan sekutu Turki dalam aliansi, menandatangani kesepakatan kerja sama pertahanan dengan Ankara pada 22 Oktober 2026. Perdana Menteri Mark Carney dan Presiden Recep Tayyip Erdogan sepakat memperluas kolaborasi antarperusahaan pertahanan kedua negara, memperkuat kapasitas produksi bersama dalam kerangka NATO.
Rutte menekankan bahwa keberhasilan Turki bukan hanya berkat satu perusahaan besar, melainkan karena ekosistem yang melibatkan sekitar 3.000 perusahaan—dari raksasa hingga UMKM—yang saling mendukung dalam rantai pasok pertahanan. Ia menyoroti ASELSAN sebagai contoh, tetapi menegaskan bahwa kekuatan Turki terletak pada keragaman dan skalanya.
Pengalaman embargo senjata AS pasca-operasi militer di Siprus tahun 1974 menjadi titik balik yang mempercepat upaya Turki membangun kemandirian teknologi. Sejak itu, pemerintah secara konsisten mengembangkan perusahaan strategis seperti Turkish Aerospace Industries (TUSAŞ) dan ROKETSAN, serta mendorong investasi besar dalam riset dan pengembangan dalam negeri.
Meski masih bergantung pada beberapa komponen teknologi tinggi dari luar, seperti mesin pesawat dan sistem propulsi, kemampuan Turki mengembangkan sistem persenjataan secara domestik telah mengubah posisinya dari penerima menjadi mitra setara dalam jaringan pertahanan Barat. NATO sendiri mengakui telah memperoleh manfaat langsung dari produksi industri pertahanan Turki, terutama dalam memenuhi kebutuhan logistik dan teknologi militer pasca-2022.















