Sumbawanews.com,- Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya dari Vaksincom mengungkap celah keamanan kritis bernama PHP2Shell yang mengancam hampir seluruh situs web global. Kerentanan ini, teridentifikasi sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619, memungkinkan peretas mengambil alih server tanpa perlu username atau password, dengan skor bahaya 9,2 dari 10. Eksploitasi terjadi melalui dua tahap: manipulasi memori yang meruntuhkan pertahanan sistem, diikuti akses penuh jarak jauh (RCE) yang memungkinkan peretas mengubah, mengunduh, atau menghapus data internal dalam hitungan detik.
PHP, bahasa pemrograman yang menopang sekitar 70 persen situs web dunia, termasuk layanan pemerintah dan portal berita, terdampak luas. Versi PHP 5.x, 7.x, 8.0, dan 8.1 yang sudah tidak lagi mendapat pembaruan keamanan paling rentan. Sementara itu, versi 8.2.34, 8.3.35, 8.4.26, dan 8.5.11 serta di bawahnya wajib segera diperbarui. Versi aman hanya yang telah dipatch: 8.2.35, 8.3.36, 8.4.27, dan 8.5.12.
Ancaman diperparah oleh penggunaan PHP versi lama di jaringan intranet instansi pemerintah dan perusahaan yang enggan diperbarui karena takut mengganggu stabilitas sistem. Jika satu server berhasil disusupi, peretas bisa menyebar seperti worm, menginfeksi server lain dalam jaringan tanpa campur tangan manusia. Ancaman juga datang dari perangkat karyawan yang terinfeksi malware saat terhubung ke jaringan internal.
Karena eksploitasi bisa dilakukan dalam hitungan menit setelah detail kerentanan tersebar, sementara proses pembaruan memakan waktu berbulan-bulan akibat ketidakkompatiban kode lama, pakar menyarankan penonaktifan sementara layanan publik sebagai mitigasi darurat. Langkah ini dianggap lebih aman daripada membiarkan sistem kritis dikuasai penuh oleh pihak jahat.















