Sumbawanews.com,- Ribuan demonstran memadati kota-kota utama Italia pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dalam aksi yang berakhir ricuh dengan bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Aksi yang melibatkan mahasiswa, sopir truk, dan petani itu memicu penutupan toko di Milan, penjarahan, dan kerusuhan di pusat kota, termasuk di depan Katedral Milan dan area Colosseum di Roma. Polisi menangkap sembilan orang dan menahan sementara 371 orang, termasuk 110 anak di bawah umur, sementara satu tokoh utama gerakan “October 17 Movement” ditangkap atas dugaan mengorganisir aksi. Pemerintah Italia, di bawah Perdana Menteri Giorgia Meloni, telah mengerahkan pasukan keamanan besar-besaran, menyetujui dekret yang memperlonggar penahanan remaja, dan menjatuhkan denda pada orang tua atas kerusakan yang dilakukan anak-anak mereka.
Di Milan, sejumlah toko memasang pelindung jendela dan tutup lebih awal menyusul aksi penjarahan pekan sebelumnya, meski sebagian pemilik usaha tetap buka sebagai bentuk keteguhan, seperti yang dinyatakan Alessandro Buhne dari toko Philipp Plein. Wali Kota Milan Giuseppe Sala menyerukan masyarakat agar tidak panik. Menteri Dalam Negeri Matteo Piantedosi menegaskan aparat berhasil mengendalikan kelompok kecil yang melakukan kekerasan dengan profesionalisme. Sementara itu, kelompok mahasiswa mengkritik respons pemerintah dan mendesak dialihkannya anggaran militer untuk pendidikan. Blokade jalan oleh sopir truk di selatan Italia yang sempat menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan pangan telah dihentikan. Pemerintah juga telah menyetujui paket bantuan finansial bagi pelaku usaha terdampak lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah.















