Home Berita Internasional Denmark Perkuat Senjata Jarak Jauh, Rusia Warnai Konsekuensi Berbahaya

Denmark Perkuat Senjata Jarak Jauh, Rusia Warnai Konsekuensi Berbahaya

Sumbawanews.com,- Denmark resmi mengumumkan pembelian dua sistem rudal presisi jarak jauh—Joint Strike Missile (JSM) dari Norwegia dan Anthem dari Amerika Serikat—untuk memperkuat kemampuan serangan pesawat tempur F-35 dan peluncur darat. Keputusan ini memicu peringatan keras dari Rusia, yang menyatakan tindakan tersebut dapat membawa konsekuensi serius bagi keamanan Eropa dan mengancam stabilitas strategis. Kementerian Pertahanan Denmark menegaskan, pengadaan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan nasional dan daya tangkal NATO di tengah memburuknya situasi keamanan di benua itu. Menteri Pertahanan Jeppe Bruus menekankan, rudal-rudal ini akan memungkinkan Denmark melakukan serangan balasan terhadap sasaran jauh di belakang garis pertahanan lawan jika wilayahnya diserang.

JSM, yang dirancang khusus untuk pesawat siluman F-35A milik Angkatan Udara Kerajaan Denmark, mampu dibawa di dalam ruang senjata internal pesawat, menjaga karakteristik rendah keterdeteksian radar. Rudal ini dirancang untuk menyerang sasaran bernilai tinggi di darat maupun laut, dengan teknologi pemanduan canggih dan kemampuan manuver tinggi untuk menembus pertahanan udara musuh. Denmark menjadi negara ketujuh yang mengadopsi JSM, bergabung dengan Australia, Kanada, Jerman, Jepang, Norwegia, dan Amerika Serikat. Namun, nilai kontrak dan jumlah rudal yang dibeli belum diumumkan, dan proses negosiasi masih berlangsung.

Selain JSM, Denmark juga memilih rudal jelajah Anthem, yang akan diluncurkan dari peluncur berbasis darat. Dikembangkan oleh Covenant, perusahaan pertahanan AS, Anthem dirancang sebagai solusi lebih terjangkau dengan muatan lebih dari 200 kilogram dan potensi jangkauan jarak jauh. Produksi massal Anthem rencananya dimulai di Sachsen, Jerman, pada awal 2027, dengan target kapasitas hingga 5.000 rudal per tahun pada 2028. Namun, jumlah pesanan dari Denmark, harga resmi, dan jadwal pengiriman belum diungkapkan. Anthem belum pernah digunakan dalam pertempuran, sehingga kesiapan operasionalnya masih dalam tahap evaluasi.

Kedutaan Besar Rusia di Kopenhagen mengecam keputusan Denmark, menyebutnya sebagai indikasi bahwa negara itu terjebak dalam “ilusi berbahaya” bahwa senjata ofensif jarak jauh akan meningkatkan keamanannya. Duta Besar Vladimir Barbin memperingatkan bahwa pembelian senjata yang mampu mengancam negara berkekuatan nuklir dapat membawa konsekuensi tak terelakkan. Rusia tidak mengumumkan respons militer langsung, tetapi pernyataan itu memperdalam ketegangan antara Kopenhagen dan Moskow, yang melihat pengadaan ini sebagai bagian dari ekspansi kemampuan ofensif NATO.

Previous articleLiverpool dan Manchester United Bertanding Malam Ini, Liga Inggris 2026/2027 Masuki Pekan Delapan
Next articleOperasi Patuh 2026 Digelar Serentak Mulai 26 Oktober hingga 8 November