Sumbawanews.com,- Manchester United kembali mengalami kekalahan telak, dikalahkan 0-2 oleh Atletico Madrid di Liga Champions 2026-2027, memperpanjang rentetan lima laga tanpa kemenangan. Bek tengah Lisandro Martinez secara terbuka mengkritik jajaran manajemen klub, terutama Direktur Teknis Jason Wilcox, atas kegagalan merekrut pemain berkualitas di bursa transfer musim panas. Kekalahan ini memperburuk krisis di lini pertahanan dan serangan, sementara pelatih Michael Carrick harus mengandalkan pemain muda seperti Ayden Heaven di posisi bek kiri akibat ketiadaan opsi andal.
Kekurangan terbesar tim terlihat jelas di posisi bek kiri, di mana Luke Shaw terus menjadi satu-satunya pilihan utama meski rentan cedera. Sejumlah nama seperti Lewis Hall dari Newcastle United dan Alejandro Balde dari Barcelona sempat menjadi target utama, namun upaya merekrut keduanya gagal—Hall karena harga 70 juta euro dianggap terlalu tinggi, sementara Balde ditinggalkan karena tuntutan finansial Barcelona yang terlalu berat. Akibatnya, United tak memiliki bek kiri murni yang siap menggantikan Shaw.
Di lini tengah, kebutuhan akan gelandang bertahan tangguh tetap tak terpenuhi. Aurelien Tchouameni dari Real Madrid, yang dinilai ideal sebagai pendamping Kobbie Mainoo, sempat tersedia di awal bursa, tetapi ketidakaktifan Man United membuat peluang itu lenyap. Sementara di depan, krisis penyerang makin memburuk setelah Benjamin Sesko cedera. Dengan hanya Joshua Zirkzee sebagai striker murni, dan Marcus Rashford, Matheus Cunha, serta Bryan Mbeumo yang lebih cocok bermain di sayap, Jean-Philippe Mateta dari Crystal Palace muncul sebagai solusi ideal—dengan harga hanya 25 juta poundsterling dan catatan mencetak minimal 12 gol per musim dalam tiga musim terakhir.
Di belakang, krisis bertambah parah setelah Matthijs de Ligt cedera panjang, sementara duet Lisandro Martinez dan Harry Maguire kerap tampil tidak konsisten. Pemain muda seperti Leny Yoro dan Ayden Heaven dipaksakan bertahan, padahal belum siap menanggung beban utama. Nico Schlotterbeck dari Borussia Dortmund, salah satu bek tengah terbaik Eropa, menjadi opsi logis yang seharusnya segera dikejar—terlebih dengan catatan kebobolan delapan dari sembilan laga musim ini akibat kesalahan lini belakang.
Dengan lima laga tanpa menang dan kepercayaan publik yang terus menurun, tekanan kini semakin berat bagi manajemen dan pelatih. Kegagalan membangun skuad yang seimbang di musim panas kini berbuah kekalahan demi kekalahan, dan setiap laga semakin mengungkap betapa dalamnya lubang yang telah digali.















