Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan beban ekonomi lebih berat terhadap Korea Selatan jika negara itu menolak berpartisipasi dalam proyek Alaska LNG. Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih pada Jumat, 2 Oktober 2026, dua hari setelah ia mengumumkan komitmen investasi Korea Selatan senilai 200 miliar dolar AS untuk sejumlah proyek energi di AS, termasuk pembangkit nuklir, pembangkit gas di Texas, dan proyek gas alam cair di Alaska. Namun, pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa keputusan terkait keterlibatan dalam Alaska LNG belum diambil, dan belum ada kesepakatan mengenai nilai atau bentuk partisipasinya.
Trump menyatakan bahwa jika Seoul tidak segera menandatangani kesepakatan, ia akan “melipatgandakan” beban yang dikenakan. Namun, ia dan Gedung Putih tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan “beban lebih banyak” atau “lipatgandakan”—apakah itu tarif impor, hambatan perdagangan, atau bentuk tekanan ekonomi lainnya. Pernyataan tersebut menimbulkan ketidakjelasan, karena tidak ada indikasi resmi bahwa AS telah mengajukan tuntutan hukum atau kebijakan spesifik sebagai konsekuensi.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan menegaskan bahwa investasi untuk proyek Alaska LNG masih dalam tahap kajian kelayakan komersial dan prosedur hukum domestik. Seoul telah mengonfirmasi komitmen sebesar 22,3 miliar dolar AS untuk pembangkit gas di Texas dan sekitar 120 miliar dolar AS untuk delapan reaktor nuklir di AS, namun proyek Alaska LNG tetap belum disepakati. Pemerintah AS menggambarkan keterlibatan Korea Selatan dalam proyek itu sebagai bagian dari komitmen lebih dari 50 miliar dolar AS, tetapi Seoul menolak mengonfirmasi angka tersebut.
Paket investasi 200 miliar dolar AS merupakan bagian dari kesepakatan strategis senilai 350 miliar dolar AS antara kedua negara yang ditandatangani pada 2025, dengan 150 miliar dolar AS dialokasikan untuk sektor galangan kapal. Namun, perbedaan persepsi antara Washington dan Seoul tentang status proyek Alaska LNG kini menjadi titik tegang dalam hubungan ekonomi bilateral.















