Sumbawanews.com,- Iran dan Amerika Serikat kembali membuka saluran diplomasi untuk meredakan perang yang telah berlangsung tujuh bulan, sementara perhatian dunia tertuju pada Bahrain—negara kecil yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Pada 30 September 2026, Teheran mengonfirmasi telah menerima respons resmi Washington terhadap proposalnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat pelonggaran sanksi ekonomi, meski rincian respons itu belum diumumkan. Di tengah upaya diplomasi ini, Bahrain memperkuat kemitraan militer dengan AS, resmi bergabung dalam Task Force Falcon Strike—satuan tugas multinasional di bawah komando CENTCOM yang mengoperasikan drone di udara, laut, dan bawah laut—serta berencana membeli lebih banyak sistem pertahanan udara buatan Amerika. Pangkalan Naval Support Activity Bahrain menjadi pusat komando dan logistik maritim AS di Teluk, Laut Arab, dan Laut Merah, menjadikannya target strategis sekaligus tulang punggung operasi militer Washington di kawasan. Serangan Iran terhadap fasilitas AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, memperlihatkan kerentanan jaringan pangkalan itu, sekaligus menegaskan bahwa ukuran geografis negara tidak menentukan bobot strategisnya dalam konflik regional.















