Home Berita Olah Raga Irlandia Bantai Israel 3-0 dalam Pertandingan Penuh Simbol Politik

Irlandia Bantai Israel 3-0 dalam Pertandingan Penuh Simbol Politik

Sumbawanews.com,- Timnas Irlandia menang telak 3-0 atas Timnas Israel dalam laga UEFA Nations League 2026-2027, Senin (28/9/2026) dini hari WIB, di Stadion Nagyerdei, Debrecen, Hungaria. Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisi Irlandia di klasemen, tetapi juga menjadi sorotan global lantaran simbol-simbol protes politik yang menyertainya. Para pemain Irlandia mengenakan ban lengan hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina, menolak berjabat tangan dengan lawan, dan menundukkan kepala saat lagu kebangsaan Israel dinyanyikan.

Gol pertama dicetak Troy Parrott pada menit ke-13, menyusul umpan tarik James Abankwah. Hanya tiga menit berselang, Adam Idah memperbesar keunggulan Irlandia lewat umpan terobosan Jack Moylan. Moylan sendiri menjadi pencetak gol ketiga pada menit ke-25, melepaskan tembakan kaki kanan yang tak bisa dihentikan kiper Israel. Skor 3-0 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang, membuat Irlandia mengumpulkan tiga poin dari dua laga, sementara Israel tetap di dasar klasemen dengan nol poin.

Keputusan untuk tetap melangsungkan pertandingan menuai kontroversi. Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) mengonfirmasi bahwa laga tetap berjalan setelah diskusi panjang dan pemungutan suara di dalam tim, meski ada seruan boikot dari lebih dari 160 atlet Irlandia yang tergabung dalam kampanye Irish Sport for Palestine. Kiper utama Gavin Bazunu menjadi satu-satunya pemain yang memilih absen, dengan alasan pribadi bahwa ia merasa “tidak tepat untuk berpartisipasi” dalam pertandingan tersebut. Ia juga mengundurkan diri dari laga berikutnya melawan Serbia pada 4 Oktober.

FAI menyatakan bahwa tindakan para pemain—seperti ban lengan hitam dan penolakan jabat tangan—telah disetujui oleh UEFA sebagai bentuk penghormatan atas nyawa yang hilang dalam konflik di Gaza. Kepala Eksekutif FAI, David Courell, menegaskan bahwa keputusan ini diambil “sebagai penghormatan atas semua nyawa yang hilang dalam konflik tersebut,” seperti dilansir Al Jazeera. Meski tekanan internasional dan domestik terus mengalir sejak Mei, pertandingan tetap berlangsung—menjadi babak baru dalam perdebatan antara olahraga dan politik di kancah sepak bola global.

Previous articleIndonesia vs Malaysia: Haye Diprediksi Jadi Starter di Derbi ASEAN Cup
Next articleIndonesia vs Malaysia: Duel Klasik di GBK, Puncak Klasemen Dipertaruhkan