Sumbawanews.com,- Lompatan teknologi kecerdasan buatan memicu munculnya agen AI yang mampu menjalankan tugas otonom di berbagai sistem dan API tanpa pengawasan manusia, menciptakan risiko keamanan siber yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan Akamai bertajuk “The Agentic Frontier: Speed, Scale, and Nonhuman Identity” memperingatkan bahwa penggunaan AI internal, integrasi AI di layanan cloud, dan serangan berbasis AI kini menjadi tiga tekanan utama yang mengancam ekosistem keamanan perusahaan. Chief Security Officer Akamai, Boaz Gelbord, menegaskan bahwa ancaman ini muncul bersamaan dan memaksa organisasi segera menyesuaikan strategi pertahanannya.
Salah satu temuan krusial adalah kehadiran Model Context Protocol (MCP), standar yang memungkinkan agen AI berinteraksi lintas sistem secara mandiri—namun pengawasannya justru menjadi prioritas terendah di banyak perusahaan. Akibatnya, muncul kesenjangan visibilitas yang berpotensi membuat agen AI tanpa kendali menjadi salah satu ancaman paling mematikan sebelum akhir dekade ini. Di lingkungan kerja, lebih dari 6% percakapan chatbot AI mengandung data sensitif perusahaan, dan 47% interaksi tersebut dilakukan lewat akun pribadi yang tidak terdeteksi IT. Model AI mutakhir kini mampu mendeteksi dan memanfaatkan celah keamanan dalam hitungan detik, membuat metode penambalan tradisional tak lagi memadai.
Risiko semakin memburuk dengan 40% pengguna korporat yang menginstal ekstensi browser berbasis AI, yang 60% lebih rentan terhadap kerentanan umum (CVE) dibanding ekstensi biasa. Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi ancaman baru berupa manipulasi algoritma pencarian oleh bot AI—dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO)—yang bisa merusak reputasi merek melalui informasi palsu. Untuk mengatasi tantangan ini, Akamai merekomendasikan empat strategi: tata kelola edge adaptif untuk penyaringan API real-time, pengamanan akses browser terhadap ekstensi tidak terdaftar, perlindungan brand dari manipulasi sintetis, dan penerapan kendali manusia (human-in-the-loop) pada tindakan AI berisiko tinggi.















