Sumbawanews.com,- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak Rusia dan Ukraina menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Hitam, menyusul meningkatnya ancaman terhadap jalur perdagangan strategis yang menghubungkan pangan dan energi global. Pernyataan itu disampaikan Erdogan saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 22 September 2026. Ankara khawatir eskalasi serangan maritim dapat memperluas dampak perang ke tingkat internasional, terutama setelah asuransi maritim London memperluas zona berisiko tinggi di perairan itu dan premi asuransi melonjak hingga ratusan ribu dolar AS per pelayaran.
Turki, yang memiliki kepentingan strategis di Laut Hitam, telah mengalami serangan terhadap kapal-kapalnya dan kehilangan warga negaranya akibat insiden tersebut. Erdogan menegaskan bahwa serangan terhadap kapal dagang tidak dapat dibenarkan dan meminta langkah konkret untuk menjamin keselamatan navigasi. Ankara juga terus mengajukan inisiatif gencatan senjata maritim kepada Moskow dan Kyiv, meski hingga kini belum mendapat respons resmi dari kedua belah pihak.
Laut Hitam, yang dikelilingi enam negara—Turki, Bulgaria, Romania, Ukraina, Rusia, dan Georgia—menjadi jalur vital bagi ekspor gandum Ukraina dan Rusia, dengan lebih dari 90 persen perdagangan biji-bijian kedua negara bergantung pada pelabuhan Odesa dan pelabuhan Rusia di pantai timur. Peningkatan serangan drone dan gangguan keamanan telah memaksa perusahaan-perusahaan mencari rute alternatif melalui Laut Baltik dan Arktik, memperparah ketidakpastian pasar global.
Sebagai anggota NATO yang tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Moskow, Turki memainkan peran unik: mendukung integritas teritorial Ukraina dan memberikan bantuan militer, namun tidak ikut dalam sanksi Barat terhadap Rusia. Erdogan menegaskan Turki siap berperan aktif dalam upaya mencapai perdamaian berkelanjutan dan menghidupkan kembali perundingan langsung antara Rusia dan Ukraina.















