Oleh: Alimuddin, Penggiat Lingkungan
Kita sering merasa telah menyelesaikan persoalan sampah hanya karena sudah memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menaikkannya ke atas truk. Padahal, bisa jadi saat truk itu pergi, persoalan kita justru baru dimulai.
Ada kalimat yang sejak kecil begitu akrab di telinga kita:
“Buanglah sampah pada tempatnya.”
Saya tidak sedang mengatakan kalimat itu salah.
Masalahnya, hari ini kita sudah berada pada situasi yang jauh lebih rumit.
Penduduk bertambah. Aktivitas ekonomi tumbuh. Kawasan usaha berkembang. Daerah pertambangan menjadi magnet bagi pekerja dan pencari kerja. Ketika aktivitas manusia bertambah, satu hal hampir pasti ikut bertambah:
sampah.
Daerah yang tumbuh karena aktivitas pertambangan, misalnya, bukan hanya mengalami perubahan pada sektor ekonomi dan infrastruktur. Ada konsekuensi sosial dan lingkungan yang ikut tumbuh bersama meningkatnya aktivitas manusia.
Lebih banyak orang berarti lebih banyak rumah.
Lebih banyak rumah berarti lebih banyak konsumsi.
Lebih banyak konsumsi berarti lebih banyak sampah.
Di sekitar kawasan pertambangan, kita bisa melihat warung bertambah, tempat usaha bermunculan, kos-kosan tumbuh, aktivitas masyarakat semakin ramai.
Semua itu adalah tanda bergeraknya ekonomi.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering terlambat kita ajukan:
Ke mana semua sampah dari pertumbuhan itu akan pergi?
Jangan sampai kita hanya menghitung berapa banyak investasi yang masuk, berapa banyak tenaga kerja yang terserap, dan berapa banyak aktivitas ekonomi yang tumbuh, tetapi lupa menghitung berapa banyak sampah yang dihasilkan setiap hari.
Sebab sampah adalah konsekuensi dari kehidupan.
Dan semakin ramai sebuah wilayah, semakin besar pula pekerjaan rumah pengelolaan sampahnya.
—–
Ironisnya, respons kita terhadap persoalan sampah sering kali masih sangat sederhana.
Pantai kotor?
Gotong royong.
Pinggir jalan penuh sampah?
Bersihkan.
Halaman kantor berantakan?
Sapu, kumpulkan, masukkan ke kantong plastik hitam.
Kita kemudian melihat halaman kembali bersih.
Foto bersama.
Dokumentasi.
Selesai.
Benarkah selesai?
Belum.
Kita hanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain.
Dari pantai ke kantong.
Dari halaman kantor ke truk.
Dari truk ke tempat pembuangan.
Dan dari tempat pembuangan, persoalan itu menjadi milik orang lain.
Di atas truk pengangkut, semua yang tadinya masih bisa dipisahkan akhirnya bercampur.
Sisa makanan bercampur dengan botol plastik.
Daun kering bercampur dengan kardus.
Pecahan kaca bercampur dengan sampah rumah tangga.
Sampah dari pasar bercampur dengan sampah dari aktivitas usaha.
Benda tajam ikut masuk tanpa kita sadari.
Bagi kita, mungkin hanya sebuah kantong hitam.
Tetapi bagi petugas yang harus berhadapan dengan tumpukan itu, kantong hitam adalah sebuah teka-teki.
Apa isinya?
Ada pecahan beling?
Ada tusukan sate?
Ada kaleng?
Ada benda tajam lainnya?
Petugas tidak selalu tahu.
Maka jangan heran jika pekerjaan di tempat pembuangan akhir menjadi semakin berat dan berisiko.
Kita meminta mereka mengelola sampah yang sejak awal sudah kita campur.
—–
Di sinilah saya kira kita perlu berani mengatakan:
Paradigma pengelolaan sampah kita harus naik kelas.
Kita tidak bisa selamanya mengandalkan pola:
Jemput – Angkut – Buang.
Pola itu mungkin diperlukan untuk sampah yang memang tidak dapat diolah.
Tetapi jika semua sampah diperlakukan dengan cara yang sama, kita sedang menciptakan persoalan baru.
Sampah organik sebenarnya bisa diolah.
Daun bisa dikomposkan.
Sisa sayuran dan buah dapat menjadi bahan kompos.
Sebagian limbah makanan dapat dimanfaatkan dalam budidaya maggot BSF.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai dapat dipilah dan masuk ke bank sampah.
Besi bekas bisa dijual.
Kardus bisa dikumpulkan.
Botol plastik bisa dipilah.
Artinya, tidak semua yang kita sebut “sampah” benar-benar sampah.
Sebagian hanyalah barang yang belum kita kelola dengan benar.
—–
Saya sering berpikir, mengapa kita harus menunggu sampah terkumpul dalam jumlah besar baru kemudian panik?
Mengapa tidak mulai dari sumbernya?
Rumah tangga tidak harus langsung membangun fasilitas pengolahan yang besar.
Mulai saja dari memisahkan sampah organik dan anorganik.
Mulai membuat kompos sederhana.
Mulai mengurangi sampah yang tidak perlu.
Pelaku usaha juga bisa mengambil peran.
Jika menghasilkan sampah, maka jangan hanya berpikir bagaimana sampah itu segera keluar dari halaman usaha.
Pikirkan juga ke mana ia pergi.
Gunakan jasa pengelolaan sampah yang jelas dan bertanggung jawab.
Karena membayar jasa angkut bukan berarti tanggung jawab lingkungan otomatis selesai.
Pemerintah juga punya pekerjaan rumah.
Masyarakat membutuhkan sistem.
Membutuhkan tempat pemilahan.
Membutuhkan fasilitas pengolahan.
Membutuhkan bank sampah.
Membutuhkan TPS3R.
Membutuhkan edukasi.
Dan yang paling penting, membutuhkan kebijakan yang melihat sampah sebagai persoalan dari hulu sampai hilir.
—–
Di daerah yang sedang berkembang akibat aktivitas pertambangan, persoalan ini menjadi semakin penting.
Pertambangan dapat membawa aktivitas ekonomi dan perubahan sosial yang besar. Tetapi bersamaan dengan itu, pemerintah, perusahaan, pelaku usaha, dan masyarakat juga perlu memikirkan konsekuensi lingkungan yang mengikuti pertumbuhan tersebut.
Jangan sampai pertumbuhan ekonomi bergerak cepat, sementara sistem pengelolaan sampah berjalan tertatih-tatih.
Jangan sampai kawasan semakin ramai, tetapi tempat pembuangan semakin kewalahan.
Jangan sampai kita membangun banyak hal untuk menyambut masa depan, tetapi meninggalkan persoalan sampah yang akan diwariskan kepada anak-anak kita.
Karena pada akhirnya, sampah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari rumah ke TPS.
Dari TPS ke truk.
Dari truk ke TPA.
Dan dari TPA, persoalannya bisa kembali kepada lingkungan dalam bentuk pencemaran, bau, emisi, atau beban pengelolaan yang semakin besar.
—–
Karena itu, saya ingin mengajak kita mengubah satu kalimat sederhana.
Bukan lagi hanya:
“Buanglah sampah pada tempatnya.”
Tetapi:
“Olah sampah dari sumbernya.”
Ini bukan pekerjaan satu orang.
Bukan pula hanya pekerjaan petugas kebersihan.
Ini pekerjaan bersama.
Rumah tangga dengan komposnya.
Sekolah dengan edukasinya.
Pelaku usaha dengan tanggung jawab sampahnya.
Pemerintah dengan sistemnya.
Perusahaan dengan komitmen lingkungan dan dukungannya.
Komunitas dengan inovasinya.
Dan masyarakat dengan kebiasaan barunya.
Saya percaya perubahan besar tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Kadang ia dimulai dari satu rumah yang mau memilah sampah.
Satu warung yang tidak lagi mencampur sampah.
Satu kantor yang mulai mengolah sampah organiknya.
Satu desa yang berani mengubah sistem.
Kemudian kebiasaan itu menyebar.
Sebab persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan membuat kota, desa, dan pantai kita terlihat bersih.
Kita harus memastikan bahwa kebersihan itu tidak dibayar dengan memindahkan masalah kepada orang lain.
Kita harus berhenti mengukur keberhasilan dari seberapa cepat sampah hilang dari pandangan.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah:
seberapa sedikit sampah yang berakhir menjadi beban.
Maka, mungkin sudah waktunya kita berhenti sekadar mengajari masyarakat di mana membuang sampah.
Mari mulai mengajari mereka apa yang bisa dilakukan terhadap sampah sebelum dibuang.
Karena kalau kita terus menggunakan cara lama, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita memiliki desa yang semakin maju, ekonomi yang semakin tumbuh, kawasan yang semakin ramai—
tetapi juga gunungan sampah yang semakin tinggi.
Dan saat itu, kita tidak bisa lagi mengatakan:
“Kami tidak tahu sampah itu akan berakhir di mana.”
Kita tahu.
Kita hanya terlalu lama memilih untuk tidak memikirkannya.
Sudah waktunya naik kelas.
Dari Jemput–Angkut–Buang, menuju Pilah–Olah–Manfaat.
Karena sampah yang kita hasilkan hari ini adalah lingkungan yang akan kita wariskan esok hari.















