Home Berita Olah Raga Nyaris Gabung Barcelona, Dua Wonderkid Indonesia yang Tak Terjangkau Takdir

Nyaris Gabung Barcelona, Dua Wonderkid Indonesia yang Tak Terjangkau Takdir

Sumbawanews.com,- Pada awal 2000-an, dua nama muda Indonesia sempat menjadi sorotan global karena hampir bergabung dengan akademi legendaris Barcelona—Tristan Alif Naufal dan Zulham Zamrun. Keduanya, meski berbeda jalan dan keputusan, sama-sama memegang kesempatan emas yang tak terwujud, mengubah arah karier sepak bola mereka selamanya.

Tristan Alif Naufal, yang viral pada 2007 saat masih berusia tiga tahun karena kemampuan olah bola luar biasa dalam video yang diunggah pamannya, menjadi bintang kecil yang menarik perhatian pelatih Barcelona Pep Guardiola saat tim Catalans baru saja meraih treble winners. Penampilannya di acara televisi yang dihadiri Guardiola membuat banyak pihak percaya ia adalah masa depan sepak bola Indonesia. Pada 2012, Tristan mendapat undangan resmi untuk menjalani trial di La Masia. Seluruh persiapan keberangkatan sudah dilakukan—paspor, dokumen, hingga tiket pesawat. Namun, karena hambatan administratif, ia tak pernah benar-benar menginjakkan kaki di akademi Barcelona. Setelah itu, Tristan melanjutkan pembinaan di Ajax Amsterdam dan Feyenoord, lalu sempat berlatih singkat di CD Leganés. Kembali ke Indonesia, ia gagal masuk Timnas U-16, bermain di Liga 3, lalu beralih ke futsal bersama Halus FC pada 2024 sebelum memutuskan pensiun di usia muda. Kini, pada 1 Maret 2025, Tristan menjadi bagian staf pelatih Shin Tae-yong Football Academy dan mendirikan akademi individu Dream Baller untuk membina bakat muda Tanah Air.

Sementara itu, Zulham Zamrun—mantan pemain Persib Bandung dan Timnas Indonesia—mengaku pernah mencapai kesepakatan dengan Barcelona saat membela Mitra Kukar. Namun, ia membatalkan keberangkatan karena merasa tidak bisa menyesuaikan diri dengan makanan di Spanyol. Dalam sebuah podcast, Zulham mengatakan, “20 hari saya rasa kaya dua tahun hidup di sana. Bahasa bisa gampang dimengerti, makanan paling.” Penyesalannya kini terasa dalam setiap kata: “Cuman ya itu, g*knya saya nggak mau… sekarang kalau mau di flashback ke belakang, bodoh.”

Dua jalan, dua keputusan, satu mimpi yang sama: menginjakkan kaki di La Masia. Tristan gagal karena birokrasi; Zulham menolak karena selera makan. Keduanya kini berada di jalur berbeda—seorang pelatih yang ingin membangun masa depan, dan seorang mantan pemain yang merenungkan apa yang seharusnya bisa jadi. Namun, kisah mereka bukan sekadar cerita kegagalan. Mereka adalah simbol harapan yang pernah menyentuh puncak dunia—dan tetap meninggalkan jejak, meski tak pernah bermain di Camp Nou.

Previous articleChelsea Tetap Percaya pada Robert Sanchez, Tak Jadi Rekrut Diogo Costa
Next articleHadiah Elektronik Murah Meriah untuk Lomba 17 Agustus