Sumbawanews.com,- Pekan ini, kebakaran hutan melanda dua wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, menghanguskan lebih dari 10 hektare lahan perbukitan di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Kebakaran pertama terjadi pada Minggu, 26 Juli 2026, di Dusun Putat, Kalurahan Selopamioro, Kecamatan Imogiri, menghanguskan lima hektare lahan Sultan Ground. Dua jam kemudian, api kembali menyala di Kalurahan Wukirsari, membakar tiga hektare lahan warga dan Sultan Ground. Pada Selasa malam, 28 Juli 2026, kebakaran baru terdeteksi di Hutan Blondo, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, menjangkau lebih dari satu hektare. Seluruh kejadian terjadi di medan curam yang menghambat akses kendaraan pemadam, sehingga pemadaman dilakukan secara manual oleh petugas, relawan, dan warga. Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam penyelidikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini lebih ekstrem akibat fenomena El Nino moderat dengan peluang 98 persen yang diprediksi bertahan hingga September 2026, didukung oleh Dipole Mode Positif yang membuat kondisi cuaca jauh lebih kering dari rata-rata klimatologis. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan potensi kekeringan ekstrem berlangsung dari Juli hingga Oktober. Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menyerukan kesiapsiagaan menyeluruh dari pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di wilayah rawan kebakaran, guna mengantisipasi dampak terhadap ketersediaan air bersih dan ekosistem hutan.















