Sumbawanews.com,- Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengajak para taruna Akademi Militer untuk mendalami teori strategi militer klasik dari Sun Tzu dan Carl von Clausewitz, dalam diskusi di Magelang pada 11 Juli 2026. Ia menekankan bahwa kepemimpinan militer modern tidak cukup mengandalkan keberanian di medan pertempuran, melainkan memerlukan pemahaman mendalam tentang tujuan politik nasional dan dinamika ancaman global yang semakin kompleks.
AHY menggarisbawahi ajaran Clausewitz bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain, sehingga seorang perwira wajib memahami mengapa ia bertugas, bukan hanya bagaimana ia bertugas. Di sisi lain, ia menyoroti doktrin Sun Tzu yang menekankan kemenangan tanpa pertempuran melalui kecerdasan, antisipasi, dan penguasaan medan—yang kini mencakup ruang siber, teknologi, ekonomi, dan informasi. Menurutnya, tantangan pertahanan Indonesia masa kini tidak lagi terbatas pada darat, laut, dan udara, tetapi meluas ke dimensi-dimensi baru yang memerlukan perwira dengan pola pikir strategis dan visioner.
Ia juga mengutip adagium Romawi “Si Vis Pacem, Para Bellum”—jika ingin perdamaian, bersiaplah untuk perang—sebagai prinsip dasar ketahanan nasional. AHY menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya bergantung pada modernisasi alutsista, tetapi pada kualitas sumber daya manusia, ketahanan ekonomi, penguasaan teknologi terkini, dan kepemimpinan yang mampu membaca perubahan global. Ia berharap para taruna yang sedang dididik di Lembah Tidar akan tumbuh menjadi pemimpin militer yang mampu menjaga kedaulatan sekaligus membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih bermartabat.















