Sumbawanews.com,- Fenomena pemain keturunan Indonesia yang memilih berkarier di Liga Indonesia semakin marak, terutama menjelang Piala AFF 2026. Bung Binder, pengamat sepak bola senior, memperingatkan bahwa keputusan para pemain diaspora untuk pulang ke Tanah Air harus dipertimbangkan berdasarkan usia dan fase karier mereka. Ia menekankan bahwa pemain yang masih dalam usia produktif sebaiknya tetap berkompetisi di liga-liga lebih kompetitif, seperti di Eropa atau Asia Timur, agar perkembangan teknis dan mental mereka tetap terjaga.
Beberapa nama seperti Ragnar Oratmangoen dan Sandy Walsh, yang kini membela Persib Bandung, sudah menjadi bagian dari Timnas Indonesia dan menjadi contoh nyata dari tren ini. Sandy Walsh, yang telah mencatat 23 penampilan bersama Timnas sejak 2023, dan Oratmangoen yang sebelumnya bermain di FCV Dender, menjadi bagian dari gelombang besar pemain diaspora yang direkrut klub-klub top Indonesia, termasuk Persija Jakarta yang menggaet Jordi Amat, Mauro Zijlstra, Cyrus Margono, dan Shayne Pattynama, serta Dewa United yang merekrut Rafael Struick dan Ivar Jenner.
Bung Binder tidak menolak kehadiran mereka di Liga Indonesia, terutama bagi pemain yang telah memasuki usia 30 tahun ke atas. Ia menyatakan, “Kalau ada pemain diaspora kita yang sudah usianya 30 tahun atau di atasnya, ya bagus juga kalau mereka ingin kembali ke tanah leluhur mereka, bermain di Indonesia dan mungkin pensiun di sini, nggak ada masalah.” Namun, ia menegaskan bahwa bagi pemain muda yang masih punya potensi berkembang, meninggalkan kompetisi internasional terlalu dini bisa menghambat proses pematangan mereka sebagai pemain kelas atas.
Kehadiran para pemain diaspora ini juga menjadi bahan pertimbangan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, yang telah memanggil lima pemain berbasis luar negeri ke skuad wider 50 pemain untuk Piala AFF 2026, termasuk Justin Hubner, Marselino Ferdinan, dan Mitchell Baker. Dengan semakin banyaknya pemain keturunan yang memilih bermain di Indonesia, tantangan bagi manajemen sepak bola nasional kini bukan hanya soal integrasi, tapi juga strategi jangka panjang dalam memanfaatkan keberadaan mereka untuk membangun tim yang berkelanjutan.















