Sumbawanews.com,- Pelatih Thomas Tuchel tak hanya melihat statistik, tapi melihat sosok yang mampu mengubah kebuntuan menjadi peluang. Di tengah fase grup Piala Dunia 2026, Jude Bellingham menjadi satu-satunya pemain Inggris yang konsisten menjadi penentu laga—baik lewat gol, assist, maupun kendali permainan.
Saat Inggris menghadapi Panama dalam laga penutup Grup L, tim asuhan Tuchel kesulitan menembus pertahanan rapat lawan. Di menit-menit krusial, ketika Kroasia unggul atas Ghana dan posisi Inggris di puncak klasemen terancam, Bellingham muncul sebagai penyelamat. Dari sepak pojok Bukayo Saka, ia menyundul bola ke gawang, membuka keunggulan 1-0. Tak lama setelah itu, ia mengirim umpan silang sempurna yang disambut Harry Kane untuk menggandakan keunggulan.
Gol dan assist itu membuatnya kembali dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan—penghargaan yang sama ia raih usai laga imbang 0-0 melawan Ghana seminggu sebelumnya. Di laga pembuka melawan Kroasia, Bellingham juga mencetak satu gol. Dengan total tiga kontribusi langsung (dua gol, satu assist), ia menyamai kapten Harry Kane sebagai pencipta gol terbanyak timnas Inggris di turnamen ini.
Tuchel menilai, kehebatan Bellingham bukan sekadar hasil kerja keras, tapi keberanian dan intuisi alami yang jarang dimiliki pemain seusianya. “Dia membawa kualitas individu yang menentukan pertandingan. Dia adalah kunci kami,” ujar pelatih asal Jerman itu, mengutip pernyataannya dari ESPN. Ia menambahkan, sejak hari pertama pemusatan latihan, Bellingham selalu menjalani taktik dengan disiplin, tapi tetap berani mengambil keputusan kreatif di momen kritis.
Rekan-rekannya pun sepakat. Marcus Rashford menyebut Bellingham bukan hanya pemain yang bermain baik, tapi yang mampu mengangkat performa tim. “Dia tidak hanya mendorong dirinya sendiri, tapi seluruh tim. Dia menggerakkan Inggris,” kata Rashford, dikutip dari laman resmi FIFA. Noni Madueke dari Arsenal bahkan menganggap penampilan Bellingham sebagai standar biasa. “Setiap kali saya lihat dia bermain, saya selalu melihat hal yang sama. Jadi saya tidak heran. Itu yang selalu dia lakukan.”
Meski demikian, Tuchel tetap berhati-hati. Bellingham baru pulih dari cedera hamstring dan operasi bahu yang membuatnya absen di awal musim. Karena itu, ia sering ditarik keluar lapangan sekitar menit ke-60 untuk menjaga kebugarannya. “Saat dia bermain dengan intensitas penuh, dia menjadi pemain paling berbahaya. Dan dia memang suka pertandingan besar,” ujar Tuchel.
Bellingham sendiri tak tergoda oleh pujian. Ia menegaskan, target utama Inggris—lolos sebagai juara grup—sudah tercapai. “Tugas pertama selesai. Tapi kami belum mencapai level terbaik. Kami harus terus berkembang di setiap pertandingan,” katanya. Ia juga menolak fokus pada lawan berikutnya, Republik Demokratik Kongo, yang dikenal memiliki pertahanan paling sulit ditembus di fase grup. “Jika ingin jadi juara dunia, kita harus mengalahkan yang terbaik. Kami menghormati semua lawan.”
Inggris akan menghadapi RD Kongo di Stadion Atlanta, Rabu, 1 Juli 2026, pukul 23.00 WIB. Di tengah tekanan babak gugur, nama Bellingham kembali jadi sorotan—bukan karena ia pemain paling banyak mencetak gol, tapi karena ia satu-satunya yang mampu mengubah kebuntuan menjadi harapan.















