Home Berita Internasional Gempa Dahsyat Guncang Caracas, Jurnalis: Saya Pikir Gedung Akan Runtuh Menimpa Saya

Gempa Dahsyat Guncang Caracas, Jurnalis: Saya Pikir Gedung Akan Runtuh Menimpa Saya

Sumbawanews.com,- Dua gempa berturut-turut dengan kekuatan masing-masing 7,2 dan 7,5 magnitudo mengguncang Caracas, Venezuela, pada Rabu, 24 Juni 2026, memicu kepanikan massal dan kerusakan luas di ibu kota negara itu. Jurnalis Nicole Kolster, yang berada di apartemen lantai tujuh di kawasan elite Palos Grandes, menggambarkan momen itu sebagai pengalaman paling menakutkan seumur hidupnya.

“Saya melihat jendela-jendela bergoyang seperti daun kering ditiup angin kencang. Satu-satunya pikiran yang muncul: berlindung di dekat pintu depan, dekat dinding batu,” katanya kepada BBC. Guncangan yang begitu kuat membuatnya yakin gedung tempatnya berada akan roboh dan menimpanya. Ia bertahan selama puluhan menit di posisi itu, tak berani bergerak, hingga teriakan tetangga meminta semua orang segera keluar rumah.

Ketika akhirnya ia keluar, pemandangan yang disaksikannya memilukan: warga berkumpul di jalanan, sebagian menangis, sebagian lagi saling berpelukan. Beberapa orang berteriak meminta tolong dari balik reruntuhan bangunan, sementara yang lain berusaha mengeluarkan mobil dari ruang bawah tanah, khawatir gempa susulan akan memperparah kerusakan.

“Ada yang kehilangan hewan peliharaan karena tak sempat menyelamatkannya. Ada yang hanya bisa berdiri, terpaku, menatap rumah mereka yang kini tinggal puing,” ujar Kolster.

Kerusakan tak hanya terbatas pada struktur bangunan. Di Palos Grandes, tiang listrik roboh, listrik padam, dan sinyal komunikasi hilang. Maria Elise, warga setempat, mengatakan dinding apartemennya retak parah, dan suara benturan keras dari dalam rumah membuat barang-barang berjatuhan dari lemari es.

Gempa ini mengguncang ingatan warga Venezuela akan bencana serupa pada 1967, ketika gempa 6,6 magnitudo menewaskan lebih dari 200 orang. Namun, banyak korban yang selamat dari gempa itu kini mengatakan, guncangan kali ini jauh lebih dahsyat.

“Suara itu seperti ledakan bawah tanah. Semua benda bergerak sendiri, seolah bumi menjerit,” kata Coro Martinez, 56, dari timur Caracas. Sementara Maria Romero, 80, yang pernah mengalami gempa 1967, berkata tanpa ragu: “Ini lebih buruk. Jauh lebih buruk.”

Gempa terjadi pada hari libur nasional Venezuela, yang memperingati kemenangan Pertempuran Carabobo 1821—sehingga banyak warga berada di rumah, bukan di kantor. Meski peringatan tsunami sempat dikeluarkan, otoritas segera mencabutnya setelah memastikan tidak ada ancaman gelombang tinggi.

Hingga kini, jumlah korban dan kerusakan total belum dikonfirmasi secara resmi. Namun, gambar dan video yang tersebar di media sosial menunjukkan bangunan-bangunan tua di pusat kota runtuh, jalan-jalan dipenuhi puing, dan petugas penyelamat bekerja keras menyisir reruntuhan demi mencari korban yang terperangkap.

Dalam kekacauan itu, kekuatan komunitas muncul: warga saling membantu, membagi air, dan menghangatkan satu sama lain di bawah terik matahari. Di tengah kehancuran, ada yang tetap bertahan—bukan hanya karena kebutuhan, tapi karena mereka tak mau kehilangan rumah, bahkan jika rumah itu kini hanya tinggal kenangan.

Previous articleTiga Gempa Dahsyat di Tiga Benua, Tak Ada Kaitan Sama Sekali
Next articleNeymar Kembali ke Timnas Brasil Usai 980 Hari Absen, Menangis Bahagia di Lapangan