Sumbawanews.com,- Teheran — Markas Besar Khatam al-Anbiya, unit militer Iran yang bertanggung jawab atas operasi strategis, mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026), sebagai respons terhadap pelanggaran berulang oleh Israel terhadap gencatan senjata di selatan Lebanon dan kegagalan Amerika Serikat memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman perdamaian yang baru saja ditandatangani.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui Press TV dan dikonfirmasi oleh Anadolu Agency, Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa penutupan ini bukan sekadar simbolis, melainkan tindakan strategis yang diperlukan untuk menegakkan kepercayaan dan menahan agresi. “Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal komersial dan militer, hingga AS dan Israel secara penuh melaksanakan Pasal 1 nota kesepahaman—yang jelas mengharuskan penghentian semua serangan dan penarikan pasukan dari wilayah Lebanon selatan,” demikian bunyi pernyataan itu.
Penutupan ini merupakan yang kedua dalam waktu kurang dari dua minggu, dan terjadi tepat ketika serangan udara Israel terus menghantam posisi Hezbollah di perbatasan Lebanon-Suriah, meskipun kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi AS telah diumumkan seminggu sebelumnya. Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran sengaja terhadap kesepakatan yang seharusnya menjadi jembatan menuju perdamaian stabil.
Pernyataan itu juga menyoroti kegagalan pasukan pendudukan Israel untuk menarik diri dari wilayah perbatasan selatan Lebanon, sebuah syarat utama dalam nota kesepahaman yang ditandatangani oleh perwakilan AS, Iran, dan Lebanon pada 13 Juni lalu. Dengan menutup Selat Hormuz—salah satu jalur paling strategis bagi perdagangan minyak global—Iran menempatkan tekanan ekonomi langsung pada pihak-pihak yang dianggapnya bertanggung jawab atas kegagalan perdamaian.
Analisis keamanan internasional memperkirakan, penutupan ini akan mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global yang melewati jalur ini, memicu lonjakan harga minyak dan ketidakpastian pasar. Namun, Iran menegaskan bahwa stabilitas regional lebih penting daripada keuntungan ekonomi jangka pendek.
“Kami tidak menginginkan perang,” tegas pernyataan itu. “Tapi kami juga tidak akan membiarkan kepercayaan diinjak-injak. Jika Israel terus menembak, maka kami akan menutup pintu.”
Diplomasi global kini berada di persimpangan. Pihak-pihak seperti Uni Eropa, China, dan Rusia telah meminta kedua belah pihak untuk menahan diri, sementara AS dikabarkan tengah melakukan pertemuan darurat di Gedung Putih untuk menilai respons yang tepat. Di Teheran, para pejabat menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz bersifat sementara—dan akan dicabut segera setelah Israel menarik pasukannya dan menghentikan semua serangan di Lebanon.
Dengan langkah ini, Iran menunjukkan bahwa ia tidak hanya mampu membalas ancaman, tetapi juga mengendalikan dinamika geopolitik global melalui alat yang paling berdampak: akses laut.















