Sumbawanews.com,- Beirut — Hanya sehari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah diumumkan, serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon selatan. Sedikitnya 16 warga sipil dan satu prajurit Lebanon tewas, sementara 12 lainnya terluka dalam serangkaian serangan yang terjadi sejak dini hari Sabtu, 20 Juni 2026.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan, serangan paling mematikan terjadi di kawasan Nabatieh al-Fawqa, di mana pesawat tempur Israel meluncurkan rudal tepat setelah tengah malam. Beberapa jam kemudian, serangan serupa menghancurkan rumah-rumah di Arabsalim, menewaskan tiga orang. Di Deir al-Zahrani dan Doueir, serangan drone menambah daftar korban dengan dua nyawa lagi. Salah satu korban tewas adalah prajurit Lebanon, Jameel Nahhal, yang tewas dalam serangan yang menargetkan posisi militer.
Kesepakatan gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat dan diumumkan pada Jumat, 19 Juni, sempat menimbulkan harapan akan jeda yang stabil di perbatasan. Namun, serangan yang berlanjut bahkan dalam hitungan jam setelah pengumuman itu memperlihatkan kerapuhan kesepakatan tersebut. Militer Israel menyatakan serangan itu ditujukan pada infrastruktur dan anggota Hizbullah, tetapi warga sipil menjadi korban utama.
Pernyataan keras dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memperburuk suasana. Dalam unggahan di media sosial, ia menyerukan: “Seluruh Lebanon harus terbakar.” Ia menambahkan, “Untuk setiap air mata seorang ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis.” Pernyataan itu muncul setelah empat tentara Israel tewas akibat ledakan drone di Lebanon selatan pada Kamis malam, sebuah insiden yang memicu balasan militer besar-besaran.
Sementara itu, pihak Lebanon mengecam serangan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang baru saja disepakati. Pemerintah Lebanon meminta komunitas internasional, terutama AS, untuk segera menekan Israel agar menghentikan agresinya. Di tengah upaya diplomatik AS dan Iran yang sedang berjalan, serangan ini memperdalam kekhawatiran bahwa konflik regional bisa meledak kembali.
Kota-kota di Lebanon selatan, yang sudah porak-poranda akibat konflik berkepanjangan sejak 2023, kembali dibanjiri puing dan duka. Warga yang baru saja bernapas lega setelah berhari-hari bersembunyi di ruang bawah tanah, kembali berlari mencari perlindungan. Di Tyre, seorang ibu memeluk anaknya yang terluka, sambil menatap reruntuhan rumahnya yang dulu menjadi tempat ia mengasuh tiga anak.
Diplomat asing di Beirut mengatakan, situasi kini berada di titik kritis. “Kesepakatan itu bukan hanya soal hentikan tembak-menembak. Ini soal kepercayaan. Dan kepercayaan itu kini retak,” ujar seorang diplomat Eropa yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dengan serangan yang terus berlanjut, dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah gencatan senjata di Timur Tengah hanya jeda sementara, atau justru ilusi yang dibangun di atas pasir?















