Sumbawanews.com,- Tim arkeolog Mesir mengungkap keberadaan kompleks kuil raksasa berusia 2.500 tahun yang terkubur dalam pasir Gurun Barat, di Oasis Bahariya, sekitar 300 kilometer barat Kairo. Penemuan ini membuka halaman baru dalam pemahaman tentang peradaban kuno yang pernah berjaya di tengah gurun tandus.
Diumumkan oleh Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Mesir pada Jumat (20/6), temuan ini berasal dari masa Dinasti ke-26, ketika Mesir mengalami kebangkitan budaya setelah periode pemerintahan asing. Di situs bernama Al-Qasr Al-Qadim atau “Istana Tua”, para peneliti menemukan sisa-sisa aula hipostil megah yang ditopang oleh 16 kolom batu pasir raksasa, serta sejumlah ruang suci yang masih menyimpan inskripsi hieroglif kuno.
Yang paling mencengangkan adalah temuan balok-balok batu bertulis yang memuat nama dan gelar Raja Psamtik I, penguasa yang memulai pembangunan kompleks ini. Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa kuil ini bukan sekadar pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat administrasi strategis yang menghubungkan wilayah gurun dengan jantung kekuasaan Mesir di Sungai Nil.
Tak hanya itu, para arkeolog juga menemukan stela batu dari masa Raja Amenhotep II—penguasa Dinasti ke-18 yang hidup hampir 500 tahun sebelum Psamtik I. Temuan ini mengungkap bahwa hubungan antara Oasis Bahariya dan pusat kekuasaan Mesir jauh lebih tua dari yang diperkirakan, bahkan sudah berlangsung sejak era Kerajaan Baru. Artefak dari masa Ramses II pun turut ditemukan, menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan dan urbanisasi di kawasan ini berlangsung secara berkelanjutan selama berabad-abad.
Inskripsi-inskripsi yang ditemukan menyebut nama-nama dewa utama Mesir kuno: Amun-Ra, Amunet, dan Khonsu. Ini mengonfirmasi bahwa kuil ini pernah menjadi salah satu pusat ritual paling penting di wilayah gurun, tempat para peziarah dan pejabat tinggi datang untuk memohon berkah ilahi.
“Temuan ini mengubah peta sejarah Mesir kuno,” kata Hisham Elleithy, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir. “Bukan hanya tentang keagamaan, tapi juga tentang bagaimana peradaban mampu bertahan dan berkembang di lingkungan paling ekstrem sekalipun.”
Kepala Sektor Kepurbakalaan Mohamed Abdel-Badie menambahkan, kompleks ini kemungkinan besar diperluas dan diperbaiki oleh penerus Psamtik I—Raja Wahibre (Apries) dan Ahmose II (Amasis)—yang menjadikannya simbol legitimasi politik sekaligus spiritual.
Penemuan ini menjadi salah satu temuan arkeologis paling signifikan di Mesir dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus mengingatkan dunia bahwa gurun bukan sekadar hamparan pasir sunyi, tapi juga lembaran sejarah yang masih menyimpan rahasia peradaban yang luar biasa.















