Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Home Sumbawa Wisata

Wisata

Senjata Pamungkas Pariwisata Dompu-Bima

Senjata Pamungkas  Pariwisata Dompu-Bima
 Menyongsong Visit Lombok Sumbawa 2012;

Sejenak saya terdiam dengan dahi mengkerut ketika ditanya oleh seorang sahabat, kekuatan dan daya tarik apa yang dimiliki oleh Dompu-Bima yang membedakannya dengan daerah lain, sehingga pariwisatanya layak dijual?

Oleh: Sayit Abdul Karim*)

Bima, Sumbawanews.com.-Jika dilihat dari arus kunjungan wisatawan, pertanyaan ini sangatlah wajar, mengingat jumlah wisatawan yang berkunjung baik wisatawan domestik maupun mancanegara ke daerah ini masih sangat minim. Padahal, kondisi alam kabupaten Dompu-Bima yang memiliki banyak daerah pegunungan dan pantai serta hamparan sawah/kebun dengan landskep yang mempesona adalah modal dasar pengembangan pariwisata.

Pasca pencanangan program Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012, hampir semua daerah yang memiliki ODTW di Nusa Tenggara Barat berlomba-lomba membenahi diri. Target mendatangkan 1 juta wisatawan oleh pemerintah bak cambuk pendorong bagi semua stakeholder pariwisata untuk menyiapkan berbagai amunisi. Tidak ketinggalan kabupaten Dompu-Bima juga ikut ambil bagian dalam program ini.

Tak ada objek wisata yang tak layak dijual, daerah Dompu-Bima menyimpan banyak kekayaan alam/keanekaragaman hayati, atraksi budaya dan keunikan adat istiadat yang menjadi warisan para leluhur, hidup dan berkembang dari waktu ke waktu. Daerah ini memiliki banyak potensi dan obyek wisata yang menarik untuk disuguhkan, seperti wisata alam/ekowisata, wisata sejarah, kuliner, seni dan budaya serta wisata petualangan yang kesemuanya dapat menjadi menu utama bagi wisatawan yang berkunjung.

Dompu memiliki pantai Lakey-Hu’u, merupakan salah satu tempat selancar terbaik dunia. Tidaklah berlebihan bila kita menderetkan nama Lakey sejajar dengan tempat selancar sekaliber Pantai Hawai-USA. Betapa tidak, Ombak liar pantai Lakey-Hu’u akan memacu adrenalin anda saat mencoba berdiri seimbang di atas papan selancar yang digulung oleh gelombang setinggi 6 sampai 8 meter. Letaknya yang langsung menghadap lautan lepas Australia menganugerahi pantai lakey ombak yang konsisten sepanjang tahun. Waktu antara Maret-Agustus yang bertepatan dengan libur musim panas di Eropa adalah saat yang terbaik untuk bertandang ke pantai ini.

Keistimewaan gelombang laut pantai Lakey yang tidak dimiliki oleh spot surfing lain menurut beberapa peselancar asal Brasil adalah; Lakey memiliki gelombang dengan arah ke kiri, bukan ke kanan seperti pada umumnya laut. Disamping itu, di tempat inipun dijumpai 5 titik surfing yaitu Lakey Peak, Pipe, Nungas, Cable Stone, dan Periscope yang menyajikan aneka jenis gelombang dengan karakter yang berbeda.

Sungguh, banyak peselancar yang pernah bercinta dengan ombak pantai Lakey, selalu rindu akan belaiannya. Ombak Lakey bak gadis perawan selalu menanti sentuhan, pelukan serta birahi para peselancar. Keganasan dan kehebatan ombaknya menjadi kekuatan magis yang dapat menyihir peselancar dunia dan membangkitkan gairah para penikmat ombak. Dengan goyangan dan kemolekkannya, Lakey-Hu’u akan menjadi “last destination” bagi para pemuja ombak dunia.

Berbagai atraksi budaya dan keunikan adat istiadat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Dompu-Bima merupakan kekuatan tersendiri bagi pariwisata daerah ini. Sejak dahulu kala daerah ini memiliki filosofi dan apresiasi budaya serta rasa seni yang tinggi. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa peninggalan bersejarah yang dapat dijumpai saat ini antara lain: Roa Rumu, Batu Puma, Wadu Pa’a (batu pahat), situs Doro Bata (gunung/bukit batu bata) di Kandai I Dompu, situs waru kali (kompleks makam kuno), Candi Sambi Tangga, situs Nanga Sia, Batu Kursi (wadu kadera) yaitu batu berupa kursi tempat penobatan para Ncuhi (pemimpin), bekas Telapak Kaki Ncuhi dan Kubur Duduk di kawasan Hu’u. Situs ini ditemukan oleh tim Arkeologi Pusat Jakarta dan Denpasar-Bali (Humas Pemda Dompu, 2009).

Produk kepariwisataan Dompu-Bima mempunyai daya jual yang sangat tinggi dan strategis untuk dikembangkan dalam rangka VLS 2012. Kekuatan pariwisata daerah ini disamping alam juga terletak pada masyarakat dan budayanya. Hal senada pernah diungkapkan oleh ketua Majelis Adat Dana Mbojo, Hj. Siti Maryam Salahuddin, SH “ Di Bima ini sangat cocok untuk wisata budaya” (Sumbawanews.com, 2009)

Ragam budaya, atraksi kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di masyarakat daerah ini akan menjadi pembangkit selera wisatawan untuk berkunjung. Beberapa tarian dan atraksi kesenian daerah yang layak dijual dan dapat dinikmati oleh wisatawan antara lain; Da’ha Lira-tarian menggambarkan keahlian gadis lokal menenun kain tradisional, Hadrah-tarian yang menggunakan alat musik rebana pengaruh dari kultur Arab, Buja Kadanda, Kareku Kandei-membuat irama bersahutan dengan menumbuk alu di atas antan dilakukan pada acara sunatan dan perkawinan. Di daerah ini juga memiliki upacara yang spektakuler dikenal dengan Hanta Ua pua (sirih puan), merupakan upacara peringatan masuknya agama islam di tanah Bima. Kunjungan anda ke daerah ini belumlah sempurna bila tidak menyaksikan Pacoa Jara (pacuan kuda) dengan joki yang masih bocah tanpa pelana.

Tarian tradisional lain yaitu Lenggo-sebuah gerakan tarian yang melibatkan para gadis remaja-diciptakan pada abad ke 16 (Lombok & Sumbawa Tourist Guide Magazine, 2009). Dompu-Bima yang berada di pulau Sumbawa ini juga terkenal sebagai salah satu daerah penghasil Madu terbaik di Indonesia. Untuk merefleksikan aktivitas ini, diciptakan sebuah tarian Weha Ani (mengambil madu) dengan gerakan yang gemulai. Untuk menggambarkan keperkasaan, daerah ini memiliki tradisi Ndempa (berkelahi masal) bertempat di lereng bukit daerah Bima, melibatkan pemuda setempat, Woha-Tente.

Suguhan kesenian lain yang tidak kalah menarik adalah Ntumbu Tuta. Anda akan berdecak kagum bila menyaksikan atraksi ini-sebuah permainan tradisional saling menyerang dengan menggunakan kepala tanpa alat pengaman sedikitpun. Permainan ini dilakukan oleh kaum laki, dapat dijumpai di desa Wawo Maria-Bima. Para petarung tidak merasakan kesakitan atau terluka karena sebelum turun ke arena, konon telah mendapat kekebalan yang diwarisi secara turun temurun.

Visit Lombok and Sumbawa 2012 adalah momentum yang tepat untuk menata kembali dan mempromosikan aset pariwisata yang ada. Daerah Dompu-Bima dengan potensi alam, atraksi kesenian, keunikan adat istiadat dan keragaman budayanya akan menjadi aset besar dan kekuatan baru pariwisata di wilayah timur yang mampu mendonkrak arus kunjungan wisatawan ke daerah “Nggahi Rawi Pahu dan Ngaha Aina Ngoho” .

*) Penulis adalah Managing Director ELLA Tours & Travel, Ampenan-Lombok. www.ellatours.com

Terakhir Diupdate ( Selasa, 30 Maret 2010 14:12 )

 

Potensi Wisata di NTB

Potensi Wisata di NTB



Sumbawanews.com.- Provinsi NTB dengan dua pulau terbesarnya Lombok dan Sumbawa memiliki  kekayaan budaya yang sangat bervariasi, sehingga sangat prospektif bagi pengembangan kepariwisataan. Karakteristik budaya yang multietnik dengan tiga suku utamanya; Sasak (P.Lombok), Samawa (bagian tengah P.Sumbawa) dan Mbojo (bagian timur P. Sumbawa), serta diperkuat dengan budaya etnik Bali, Jawa, Melayu, Bugis, Timor, Banjar, China, Arab, menjadikan NTB ibarat miniatur Indonesia dan mozaik budaya nusantara.
Panorama alam dari puncak pegunungan, lembah dan ngarai serta hamparan lahan pertanian yang mempesona, hingga bentangan pantai, laut serta gugusan terumbu karang yang masih lestari menjadi kekuatan lain untuk menarik minat kunjungan wisatawan. Selain mengandalkan wisata berbasis budaya dan mengandalkan panorama alam, sebagai sebuah destinasi, NTB memiliki daya saing untuk kegiatan wisata yang bersifat spesifik, seperti menyelam, arun jeram, pendakian, ziarah ritual dan penulusuran gua.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1989 tentang pembangunan Kawasan Pariwisata di Daerah Nusa Tenggara Barat, terdapat 15 kawasan pengembangan pariwisata. Sembilan Kawasan tersebar di Pulau Lombok , enam kawasan lainnya terdapat di Pulau Sumbawa. 15 kawasan tersebut meliputi;
  • Kawasan Pariwisata Suranadi dan sekitarnya (96 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Sire, Gili Air, Senggigi dan sekitarnya (1.800 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Gili Gede dan sekitarnya (2.590 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Kuta, Seger, A'an dan sekitarnya (2.590 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Selong Belanak dan sekitarnya (480 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Gunung Rinjani dan sekitarnya (17.100 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Gili Indah dan sekitarnya (650 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Gili Sulat dan sekitarnya (1.317 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Dusun Sade dan sekitarnya (315 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Pulau Moyo dan sekitarnya (1.528 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Pantai Maluk dan sekitarnya (376 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Pantai Hu'u dan sekitarnya (2.756 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Sape dan sekitarnya (203 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Teluk Bima dan sekitarnya (201 Ha)
  • Kawasan Pariwisata Gunung Tambora dan sekitarnya (2.526 Ha)
Belasan kawasan pariwisata potensial ini, tentunya butuh sentuhan tangan dingin yang mampu mendesain perencanaan strategis melalui terobosan inovatif guna menghasilkan nilai tambah berupa kesejahteraan masyarakat. Sejumlah hal harus mulai disiapkan secara dini. Mulai dari pembenahan sikap mental aparatur pemerintah, penyiapan pelaku usaha pariwisata yang profesional, membangun jaringan pemasaran dan promosi yang efektif dan efisien, hingga memperbaiki kualitas destinasi.

(sumber ; RPJMD Provinsi NTB 2009-2013) 

Wisata Pantai Balat Dinilai Berpotensi Dikembangkan

Wisata Pantai Balat Dinilai Berpotensi DikembangkanTaliwang KSB.  SumbawaNews.com.- Perairan pantai Balat Taliwang Sumbawa Barat yang selama ini terkesan dipandang Sebelah mata sejumlah pihak, ternyata memiliki Potensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata.
         Pantauan Wartawan SumbawaNews.com (14/12), nampaknya memiliki dinamika keragaman hayati SDA yang terkesan harmonisasi lingkungan, yang sangat cocok
dikembangkan sesuai adat dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat sekitar.
         Salah satu tokoh masyarakat setempat, Syaifullah Ali pada wartawan mengatakan,  meskipun selama ini wisata Pantai Poto Balat menjadi favorit yang setiap hari selalu ramai dikunjungi masyarakat Taliwang dan sekitarnya, namun Pemkab Sumbawa Barat hingga saat ini belum juga memberikan perhatian, setidaknya memberikan berbagai fasilitas penunjang yang dinilai penting bagi para tamu yang datang berwisata, termasuk menyediakan sejumlah sampan bermesin
yang dapat digunakan, jika para tamu ingin berekreasi melihat berbagai biota ditengah laut,  "Kita inginkan Pemkab memberikan perhatian terhadap kondisi pantai balat ini, setidaknya disediakan sejumlah fasilitas seperti sampan mesin untuk memudahkan para pengunbjung yang ingin melihat langsung berbagai biota laut,"  kata Syaifullah.
          Diakui juga oleh Herlina (35) warga Desa Meraran Kecamatan Seteluk yang tengah berlibur, bahwa dirinya bersama keluarga secara rutin sabtu-minggu datang berlibur  ke Pantai Balat Taliwang, meskipun kegiatan itu hanya untuk datang mandi dan rekreasi saja tapi sudah menjadi kewajiban yang terus dijalankan sejak 2005 hingga saat ini, "Saya selalu datang bersama keluarga hanya untuk mandi dan rekreasi saja, karena pantai balat ini tidak hanya aman dan tertib, namun panorama alamnya sangat indah, apalagi Pemerintah bisa menambah lagi fasilitas seperti sampan mesin,"  Imbuhnya.
         Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis) Diskonesdm dan Budpar, Drs. Hajamuddin, MM, yang dihubingi via ponselnya mengaku, bahwa Pemkab tengah mencanangkan pada APBD 2010-2011 akan berupaya untuk memberdayakan berbagai kawasan yang dinilai  berpotensi dijadikan tempat wisata, termasuk Pantai poto Balat Taliwang, pantai Balas  Kecamatan Maluk, Pantai Jelenga Kecamatan Jereweh dan Gua Mumber dipegunungan Desa bangkat Monteh Brang Rea Taliwang,  "Kita tengah berupaya agar seluruh kawasan yang dinilai berpotensi dijadikan wisata tersebut, dapat segera dikembangkan,"  kata Hajamuddin (14/12).
         Dijerlaskan,  memang diakui potensi alam Sumbawa Barat sangat melimpah, tapi jika dikembangkan harus melalui tahapan-tahapan, karena secara keseluruhan kawasan yang akan dijadikan tempat wisata tersebut, tentunya yang jadi prioritas pertama harus membangun fisik barulah fasilitas lainnya,  "Pengewmbangan kawasan wisata itu tentu     melalui tahapan-tahapan, apalagi menyangkut pembangunan fisik," jelas Hajam.  (Hong).

Terakhir Diupdate ( Senin, 14 Desember 2009 23:29 )

Bungin , Pulau Terpadat dan Kambing Makan Kertas

Bungin , Pulau Terpadat dan Kambing Makan Kertas

SUMBAWA: Dengan luas 8 hektare dihuni lebih dari 2.800 penduduk, Bungin bisa jadi pulau terpadat di dunia. Sejarah penghuni, etos kerja penduduknya yang nelayan, dan cerita kambing maka kertas melengkapi keunikan di pulau karang tersebut.

“Anda pasti tertarik ke sana karena cerita Kambing makan kertas?. Hanya di Bungin anda bisa melihatnya langsung, dan percaya,” begitu kata Indra, seorang warga Desa Alas, Kecamatan Sumbawa.

Pertanyaan itu hampir selalu dilontarkan warga di sana, kepada orang luar yang menanyakan letak Pulau Bungin, dan hendak menuju ke Pulau itu.
Pulau Bungin terletak di perairan laut Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di sebelah utara Pulau Sumbawa. Secara administratif Bungin termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Alas.
Tak sulit menemukannya. Dari Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, hanya berjarak sekitar 70 KM ke arah barat. Sedangkan dari Mataram, menghabiskan waktu berkendara sekitar 6 sampai 8 jam perjalanan ke arah timur, sudah termasuk perjalanan laut menggunakan kapal penyeberangan Lombok-Sumbawa.
Sedikit bertanya pada warga di Desa Alas, pasti langsung ditunjukkan letak Pulau Bungin. Dari daratan sepanjang jalan di Alas, pulau Bungin bisa terlihat karena jaraknya hanya sekitar 4 KM arah utara dari Alas.

Kini, menuju pulau Bungin tak harus menyeberang dengan sampan, pakai sepeda motor atau mobil juga bisa karena sudah tanggul terbuat dari susunan karang yang menghubungkan Bungin dengan daratan.
Cerita tentang Kambing makan kertas, memang sangat melekat bagi citra Pulau Bungin. Kedengarannya memang aneh. Tetapi pemandangan itu menjadi sesuatu yang lazim bagi penduduk Bungin.
Di Bungin kambing memang tak punya pilihan makanan lain, selain sampah kertas dan kain bekas. Tekstur pulau batu karang tak memungkinkan bagi tanaman untuk tumbuh, meski hanya rumput.

Setiap ada pengunjung yang datang untuk melihat kambing makan kertas, belasan anak usia SD dengan senang hati akan menunjukannya. Mereka beramai-ramai mencari kertas atau dos bekas untuk diberikan pada kawanan kambing.

Meski bertahan hidup hanya dengan makan sampah kertas dan kain bekas, populasi kambing di Bungin cukup banyak.

Sejak tahun 2002 lalu, Pulau Bungin sudah menjadi desa definitif dengan tiga Dusun, di wilayah Kecamatan Alas. Jumlah penduduk dan luas areal pulau sudah memungkinkan.
Catatan resmi di Kantor Desa Pulau Bungin menyebutkan, jumlah penduduknya saat ini mencapai 609 Kepala Keluarga (KK) terdiri dari 2.826 Jiwa.
“Pulau ini mungkin satu-satunya pulau terpadat, dan satu-satunya pulau yang luasnya terus bertambah,” kata Sopian, Kepala Desa Pulau Bungin.
Menurutnya, saat diukur pada tahun 2002 silam, luas pulau sekitar 6 Hektare, namun kini luas pulau itu menjadi sekitar 8 Hektare.
Pulau Bungin memang sangat padat penduduk. Rumah penduduk tersusun sangat rapat, dengan jarak antara rumah hanya sekitar 1,5 meter.

Konstruksi rumah adalah rumah panggung khas Bungin, terlihat merata menutupi luas pulau. Karena rapatnya, ada beberapa rumah yang atapnya bertemu.
Hukum adat tentang perkawinan warga Bungin, menjadi alasan yang membuat Pulau Bungin tetap mampu menampung pertambahan jumlah penduduknya. Karena dalam hukum adat itu, diatur pasangan muda-mudi yang hendak menikah wajib membangun lokasi sendiri untuk mendirikan rumah mereka.
Caranya, pasangan itu harus mengumpulkan batu karang untuk ditumpuk pada sisi luar pulau yang ditentukan. Ukuran lokasinya bisa mencapai 6 x 12 meter persegi. Setelah lokasi terbentuk, baru mereka boleh menikah dan mendirikan rumah. Itu sebabnya, luas pulau Bungin terus bertambah dari tahun ke tahun.
“Biasanya bisa makan waktu 3 sampai 7 bulan untuk satu lokasi. Tetapi itu sudah aturannya turun temurun, kalau mereka tidak bikin lokasi ya belum boleh kawin,” kata Sopian.
Tapi, bagi warga Bungin aturan itu tidak mempersulit, sebab pengumpulan batu karang biasanya dilakukan dengan bergotong royong.
Bisa dibilang, pulau Bungin adalah pulau karang bentukan. Meski pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumbawa, selalu mengukur luas pulau itu setiap lima tahun, namun tak satu penduduk pun memiliki sertifikat tanah.

“Karena ini kan bukan tanah daratan, ini karang bentukan warga. Maka di pulau ini warganya tidak membuat sertifikat, hanya ada keterangan hak milik yang dikeluarkan Kantor Desa,” kata Sopian.

Legenda Panglima Mayo
Penduduk pulau Bungin bermata pencaharian nelayan. Mereka adalah keturunan suku Bajo dan Bugis, Sulawesi Selatan.
Dari cerita turun temurun yang mereka percayai, dulunya luas pulau Bungin hanya sekitar 3 Hektare, teksturnya karang utuh. Penduduk pertamanya ialah nenek moyang mereka yang dibawa dalam armada laut Panglima Mayo, seorang pejuang Sulawesi Selatan, ketika terdesak penjajah Belanda pada tahun 1818.
“Makanya bahasa daerah sehari-hari penduduk di sini pakai bahasa Bajo, bukan bahasa asli daerah Sumbawa,” katanya.
Walau seluruh penduduknya bermata pencaharian nelayan, kehidupan warga pulau itu cukup mapan. Jauh dari kesan kemiskinan yang biasa terlihat di kampung-kampung nelayan lainnya di Nusa Tenggara Barat.
Hampir semua keluarga punya barang elektronik. Paling rendah punya pesawat televisi, lengkap dengan reciever parabola digital.
Malah, anak-anak Bungin sudah tidak asing dengan Play Station. Ada sejumlah rental menyewakan Play Station di sana.
Kebutuhan belanja sehari-hari penduduk di sana, juga lumayan tinggi. Soalnya, kecuali produk laut, semua kebutuhan lainnya harus dibeli. Mulai sembako, hingga air bersih.
Ini yang unik. Untuk kebutuhan sehari-hari itu, para wanitalah yang memenuhinya.
“Suami kita melaut, kadang sampai 3 bulan di laut. Kita yang cari uang untuk belanja,” kata Hasnah, istri nelayan Bungin.
Untuk kebutuhan itu, Hasnah dan para wanita lainnya mencari ikan, kerang, dan tripang di sekitar Pulau Bungin. Hasilnya lumayan, mereka bisa mengantungi Rp15 ribu sampai Rp30 ribu perhari.
Nelayan di Pulau Bungin sudah menggunakan teknik modern mencari ikan. Dengan kapal-kapal berukuran besar, menggunakan mesin tempel dan layar, mereka bisa melaut sampai ke perairan Pulau Flores, NTT, dan peraian Maluku. Selain memburu ikan dengan jala, mereka juga terkenal piawai memburu Lobster.
Nah, hasil melaut para nelayan inilah yang kemudian digunakan untuk keperluan tambahan keluarganya. Mulai dari keperluan membangun rumah, menyekolahkan anak, membeli perhiasan, hingga naik haji.
Penduduk Bungin sangat mencintai pulaunya. Meski mapan secara ekonomi, mereka tidak pernah berpikir untuk membeli tanah dan pindah rumah ke darat.
Peti kalamndan isian kepeh bubungin, pdi dendamku malenan tana bungin. Syair adat turun temurun itu menjadi pengikatnya. Dalam bahasa Bajo syair itu berarti, banyak peti sudah kuisi dengan uang dari Bungin, sakit hatiku jika meninggalkan tanah Bungin.
“Di darat biasanya banyak godaan, dan juga banyak rasa tidak aman. Misalnya ada pencuri. Maka itu, walau bisa melaut sampai berbulan-bulan, masyarakat Bungin pasti kembali,” kata Sopian.
Di Pulau Bungin mereka tidak merasa khawatir soal keamanan dan kenyamanan, karena pertalian persaudara membuat mereka saling menjaga.
Hanya satu yang ditakuti mereka, yakni kebakaran. Bayangkan dengan posisi rumah yang sangat rapat, pasti kebakaran bisa merembet sangat cepat.
“Makanya kalau ada gejala kebakaran, maka semua masyarakat di sini menjadi petugas pemadamnya. Tapi mudah-mudahan itu tidak pernah terjadi,” kata Sopian.
Berkat kemampuan ekonomi mereka, infrastruktur di pulau Bungin pun terus terbenahi dari tahun ke tahun. Listrik PLN dan Air PDAM sudah masuk ke sana.

Sudah ada dua buah Sekolah Dasar di Pulau itu, dan sebuah Puskesmas pembantu.
Secara swadaya pula, mereka membangun tanggul sepanjang 750 Meter dengan lebar 2 Meter. Tanggul itu menghubungakan Bungin dengan daratan, sehingga selain menyeberang perahu, kini menuju Bungin bisa lewat darat.
Selain memudahkan akses masyarakat ke darat, tanggul itu juga untuk mempermudah jika ada warga Bungin yang meninggal dunia. Sebab mereka dimakamkan di sebuah tanjung yang diberi nama Tanjung Kuburan, di darat.
“Dari tanjung darat itu, pemerintah yang membantu membuka jalan sepanjang 3 KM ke jalan raya utama,” kata Kades Bungin, Sopian.
Masyarakat Pulau Bungin masih mengharapkan bantuan pemerintah untuk dunia pendidikan di sana. Berharap ada SMP dan SMA di pulau itu, walaupun lokasinya harus dikerjakan gotong royong.
Kini, Bungin sudah menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Sumbawa. Banyak wisatawan domestik dan mancanegara ingin melihat dari dekat.
Ada satu yang tak pernah berubah di pulau itu. Walau semua rumah memiliki kamar mandi, namun tak satu rumah pun punya WC. Buang air tetap dilakukan di laut.
Selain keramahan penduduknya, ada hal yang pasti berkesan ketika berkunjung ke Pulau Bungin. Kita bisa menikmati indahnya Sunrise dan Sunset di pulau yang sama.(JL-001)

Sumber: Jurnal Lombok

Ekspedisi Satonda 2008, Sumbawa

Ekspedisi Satonda 2008, Sumbawa

Sumbawanews.com.- Menyelami sebuah danau kecil di sebuah pulau kecil bernama Satonda adalah seperti melihat awal kehidupan di planet Bumi. Minggu lalu, kami berempat belas dari BPMIGAS, bersama dua dosen geologi dari UGM (Pak Agus Hendratno dan Pak Salahuddin Husein) dan seorang pejabat sekaligus geologist dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) (Pak Heryadi Rachmat) mendatangi pulau di seberang kaki Gunung Tambora, Sumbawa ini.

Mengapa kami jauh-jauh dari Jakarta mendatangi pulau kecil yang gambarnya belum tentu ada di setiap atlas anak sekolah ini ? Untuk mencapainya saja dibutuhkan angkutan udara, darat, dan laut selama 18 jam.

Target utama kami adalah ingin mempelajari “stromatolit” – struktur terumbu gampingan berlaminasi yang tersusun oleh mikroba bakteri dan ganggang (suka disebut sebagai sembulan mikrobialit). Stromatolit mendominasi lautan di planet Bumi pada kurun PraKambrium. Ia adalah bentuk pertama struktur kehidupan yang masif. Organisme mikroba prokariotik yang melakukan fotosintesis ini telah membuat atmosfer Bumi pada PraKambrium yang miskin oksigen menjadi berangsur kaya oksigen. Tragisnya, semakin kaya oksigen, kehidupan multisel semakin berkembang di lautan PraKambrium, dan organisme multisel inilah yang memakan bakteri dan ganggang pembuat stromatolit. Maka, memasuki masa Paleozoikum Atas, struktur stromatolit hampir tidak pernah ditemukan lagi. Lalu mengapa tiba-tiba stromatolit ini muncul di danau modern (Kuarter) Satonda ?

Jawaban pendeknya adalah karena air Danau Satonda secara kimiawi menyerupai lautan PraKambrium. Semakin dalam menyelam, seolah pintu ke kurun PraKambrium semakin terbuka lebar. Tidak pada setiap zaman geologi hadir hewan karang (scleractinian coral) pembentuk terumbu karang seperti pembangun reservoir-reservoir migas Miosen di Indonesia dan terumbu karang yang indah di wilayah tropis. Pada masa Paleozoikum Bawah (Kambrium-Ordovisium-Silur), terumbu gampingnya adalah bukan terumbu karang, tetapi terumbu stromatolit yang disusun mikroba bakteri dan ganggang. Nah, karena telah terjadi kecenderungan bahwa eksplorasi migas mulai bergerak ke masa Paleozoikum Bawah, kami dari BPMIGAS memandang perlu mendatangi analog modern lingkungan PraKambrium-Paleozoikum Bawah yang telah tersedia secara unik di sebuah pulau volkanik kecil bernama Satonda. Di sana kami mempelajari lingkungan pembentukan stromatolit dan kemungkinannya sebagai reservoir migas. Kami berharap
bahwa setelah mempelajarinya, kami akan dapat membangun model prediksi di mana di Indonesia dapat berkembang terumbu stromatolit Paleozoikum Bawah, sekaligus kemungkinannya sebagai reservoir migas.

Pulau Satonda yang terletak di sebelah utara Gunung Tambora yang merupakan gunung dengan letusan terbesar yang tercatat (tertulis) dalam sejarah manusia. Letusannya menyebabkan Eropa kehilangan musim panas dalam satu tahun. A year without summer

Dari Jakarta, kami berangkat hari Kamis 4 Desember menggunakan Garuda GA 430 pukul 11.15. Kami tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 14.00 WITA. Setelah bergabung dengan Pak Agus dan Pak Udin (UGM) dan Pak Heryadi Rachmat (Pemda NTB) di Mataram, rombongan melintasi jalan tengah Pulau Lombok menuju Kahyangan, nama pelabuhan penyeberangan ke Pulau Sumbawa yang terletak di bibir pantai timur Pulau Lombok. Di sepanjang perjalanan, tubuh gunungapi Rinjani dan endapan piroklastikanya membuat lahan Lombok menjadi subur. Kapal ferry yang akan membawa kami ke Sumbawa penuh dengan mobil pribadi, truk, dan bus yang akan menyeberang. Pukul 19.00, bus yang kami sewa baru dapat giliran menyeberang. Sebagian dari kami ada yang tidur di dek yang bersusun, ada juga yang ngobrol-ngobrol dan bercanda di geladak kapal sambil menikmati angin laut yang berhembus di atas Selat Alas – selat yang memisahkan Lombok dan Sumbawa. Pukul 21.00, kapal berlabuh di Pototano, lalu
bus dengan kecepatan tinggi memacu jalannya menuju kota Sumbawa Besar. Di luar gelap dan hujan turun rintik-rintik. Pukul 23.00 kami tiba di sebuah hotel di dekat dermaga penyeberangan ke Pulau Satonda. Meskipun cukup melelahkan, sebagian besar dari kami tak dapat tidur sampai pukul 02.00; padahal pukul 05.30 esoknya kami harus bersiap-siap menyeberang ke Satonda.

Jumat 5 Desember pagi hari sambil sarapan kami mendapatkan cerita dari dua teman kami yang kamarnya diganggu ”penunggu” hotel ini (hm..). Ranjangnya diangkat dan dimiringkan, pintu pagarnya digoyang-goyang, pintu digedor-gedor, dll. Antara sadar dan tidak, teman itu bercerita apakah ada gempa semalam. Kami bingung menanggapinya sebab tak ada seorang pun yang merasakan gempa semalam. Pukul 06.15 kami memulai perjalanan laut menuju Satonda menyeberangi Teluk Saleh dan Selat Batahai yang sangat indah. Suasana laut yang begitu biru dan teduh karena terlindung oleh Pulau Moyo dari gelombang Laut Flores di sebelah utara, membuat kami yang umumnya ngantuk karena kurang tidur menjadi semangat. Semua kawan ingin merasakan terpaan angin laut pagi hari, maka kami duduk di puncak anjungan kapal atau di geladak depan kemudi. Sejauh mata memandang adalah laut biru dan biru. Awan putih berarak di langit yang juga biru. Di kejauhan nampak Pulau Moyo yang dibentengi
terumbu karang modern yang terangkat. Siapa yang menyangka kalau di tepi pulau ini ada sebuah resort internasional yang memasang tarif 1000 USD per malam dan pernah dikunjungi Lady Diana semasa hidupnya. Pukul 10.15 kami tiba di depan Pulau Satonda. Kapal membuang jangkar beberapa ratus meter dari bibir pantai agar tak kandas. Dengan perahu motor kami diantar menginjak Pulau Satonda.

Hampir empat jam kami gunakan mengeksplorasi pulau ini. Dari luar, pulau ini tak berbeda dengan pulau-pulau lain di sekitarnya. Siapa yang menyangka, begitu kami masuk ke dalamnya mengikuti jalan setapak naik dan turun, tiba-tiba kami disuguhi pemandangan yang spektakular : Danau air asin Satonda yang berwarna hijau kebiruan dikelilingi tebing berhutan lebat yang dibangun oleh lava dan tuf. Danau ini baru terbuka kepada ilmu pengetahuan ketika pertama kali ditemukan tahun 1984 melalui ekspedisi Snellius II. Buat penghuni di sekitarnya tentu saja danau ini sudah diketahui keberadaannya seumur penghunian di wilayah ini, tetapi ia baru diketahui sangat berharga untuk ilmu pengetahuan setelah ekspedisi Snellius II. Ternyata, Danau Satonda adalah satu dari hanya sekitar lima tempat di Bumi yang menyerupai lautan PraKambrium. Di Indonesia, ia diketahui satu-satunya.

Begitu mendekati bibir danau, kami disuguhi singkapan stromatolit Kuarter di atas permukaan danau yang tentu saja organismenya sudah mati dan membangun struktur terumbu masif. Gambaran kasat mata, terumbu stromatolit ini menyerupai terumbu karang yang dibangun scleractinian coral, tetapi ia sama sekali tak mengandung koral. Kesan kemiripannya berasal dari semen dan matriks gampingannya. Perbedaan yang segera bisa terlihat adalah struktur laminasi yang bisa ditemui di beberapa bagian singkapan. Keunikan stromatolit Danau Satonda adalah bahwa ia bersatu tempat lingkungan dengan endapan piroklastika berupa lava andesit basaltik dan tuf. Tidak mengherankan sebab Danau Satonda sesungguhnya adalah danah kawah gunungapi.

Kesan bahwa ini merupakan miniatur laut pada Kurun PraKambrium akan diperoleh bila kita melakukan snorkeling dan menyelam. Seorang teman kebetulan membawa kamera digital bawahair, maka sambil melakukan snorkeling foto-foto bawahair diperoleh. Perahu motor yang mengantar kami dari kapal tadi diangkut banyak awak kapal melalui jalan setapak naik turun menuju danau. Baru kali itu saya melihat perahu berat diangkut ramai-ramai naik-turun bukit. Tadinya memang kami akan menggunakan perahu karet, tetapi sobek saat diturunkan dari kapal. Dengan perahu itu, sebagian dari kami mengelilingi seluruh kawasan danau mengamati stromatolit yang tersingkap maupun yang masih hidup mulai dari kedalaman sekitar 5 meter. Bagaimana makhluk hidup di danau ini ? Sepi sekali. Hanya stromatolit, ganggang hijau yang mengambang sampai permukaan, keong gastropoda kecil berwarna hitam yang tak lebih besar dari ujung pinsil, dan ikan-ikan sebesar teri berwarna hitam. Itu saja yang
sempat kami saksikan. Air danau adalah air asin, air laut. Hasil penelitian para ilmuwan yang pernah mendatangi danau ini dan menyelaminya sampai dalam (sayangnya seluruhnya adalah ilmuwan asing), kimia air ini sangat basa (alkalin) dengan salinitas yang semakin tinggi semakin dalam. Kondisi ini ekstrim untuk kehidupan normal saat ini, sehingga yang bisa bertahan hidup hanya organisme yang cocok dengan kondisi itu atau yang telah mengalami perubahan evolusi (spesiasi terhadap lingkungan). Karena stromatolit berlimpah pada kurun PraKambrium, maka lautan pada kurun itu dipikirkan juga sebagai lautan yang alkalin mirip analognya sekarang (”the present is the key to the past”). Diskusi tentang stromatolit PraKambrium dan lingkungannya serta kimia air laut Satonda dapat dilihat di bawah.

Bagaimana peluang stromatolit sebagai reservoir migas ? Sangat baik – istimewa. Dari contoh-contoh singkapannya di Danau Satonda kami melihat bahwa porositasnya sangat berkembang baik secara primer melalui batas-batas struktur laminasinya, maupun sekunder melalui diagenesis ganggang dan struktur bakterinya. Secara mineralogi, kedua mikroba ini disusun oleh Mg-Ca dan aragonitik, sehingga mudah terdisolusi mengembangkan porositas. Maka, kalau di Indonesia ditemukan lapisan terumbu stromatolit di Paleozoikum Bawah, potensinya sebagai reservoir akan baik.

Setelah puas meneliti Danau Satonda, kami kembali mengikuti jalan setapak naik dan turun menuju bibir pantai yang berhubungan dengan laut lepas tepi Laut Flores. Di jalan pulang kami berpapasan dengan sekitar sepuluh turis asing (Amerika) anak-anak dan dewasa, lelaki dan perempuan, yang hendak berenang di Danau Satonda. Hm, tempat seterpencil Satonda masih juga diketahui mereka. Tentu saja, sebab Satonda adalah salah satu aset pariwisata Sumbawa di samping Tambora. Dan, ia pun aset penting ilmu pengetahuan. Beberapa turis asing ini berbaik hati saat pulang ikut mengangkat perahu motor kami dari Danau Satonda.

Di pantai Satonda yang berhubungan dengan laut lepas Laut Flores, kami melakukan snorkerling dan pemandangannya sungguh luar biasa. Betapa indahnya terumbu-terumbu karang yang masih hidup itu, dengan berbagai bentuk dan warna, berkedip dan berdenyut atau melambai bergerak-gerak oleh godaan air laut. Sementara itu puluhan jenis ikan karang yang warnanya sangat indah dan kontras berenang-renang di antara bunga karang. Ini tak berbeda dengan pemandangan terumbu karang di Kepulauan Seribu, atau di Bunaken, atau di Taka Bone Rate, atau di Raja Ampat, dan di tempat-tempat lain.

Bandingkan, dalam jarak yang tak sampai satu km, kehidupan di dalam Danau Satonda yang juga diisi air laut, dengan kehidupan di tepi pantai Satonda, sangat jauh – ibarat tanah dengan langit. Kehidupan di Danau Satonda sangat sepi dan suram, sementara di tepi pantai Satonda sangat ramai dan ceria. Apa yang menyebabkannya ? Kimia air laut dan lingkungan geologi kedua wilayah berjarak tak sampai satu km itu sangat jauh. Saya baru percaya bahwa Danau Satonda benar-benar merupakan analogi lautan PraKambrium yang alkalin, kehidupan bersel tunggal, sepi, didominasi stromatolit, evolusi awal kehidupan setelah membandingkan dua kontras ini. Boleh dibilang bahwa dalam jarak tak sampai satu km dari Danau Satonda ke pantai Pulau Satonda kita melangkah dari kurun PraKambrium ke Resen –suatu perjalanan 1000 juta tahun.

Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Tambora yang pernah meletus secara katastrofik pada tahun 1815 dan sampai saat ini menduduki peringkat teratas di dunia dalam letusan gunungapi dalam sejarah manusia. Konon gunung ini pernah setinggi 4200 meter, membuat gunungapi tertinggi di seluruh kawasan Hindia Timur (Indonesia sekarang). Indeks letusan gunungapi ini menduduki angka 7 – itu adalah angka tertinggi, dengan energi empat kali lebih besar dari energi letusan Krakatau 1883 yang menduduki indeks angka 6. Letusan Tambora ini pernah membuat dunia tanpa musim panas sehingga kelaparan dan penyakit melanda di mana-mana di seluruh dunia. Gunung di ujung utara Sumbawa inilah biang bencana saat itu. Sore itu kami akan mengamati urutan endapan piroklastikanya yang tersingkap di pantai bernama Pantai Kenanga.

Setelah sampai di seberang Pantai Kenanga, beberapa dari kami kembali diantar menggunakan perahu motor. Kami mendarat di bibir pantai dan segera disambut pasir besi berwarna hitam yang panas. Pasir besi ini adalah penyaring air laut yang baik. Penduduk setempat menggali tak sampai satu meter di pinggir pantai akan menemukan air tawar. Di tebing pantai kami mengamati singkapan piroklastika letusan Tambora 1815. Letusan Tambora yang hebat berlangsung empat bulan dari April – Juli 1815. Setiap letusan mengirimkan endapan piroklastikanya, sebagian ke wilayah ini dan terawetkan. Beberapa batang pohon yang telah mengarang dan menyerpih tertanam di dalam tuf. Tuf dan batu apung banyak menyusun singkapan, mencirikan bahwa magma asam diletuskan dengan kekuatan yang besar. Batang-batang pohon itu dulunya mesti berasal dari hutan di lereng Tambora yang diserbu awan panas dengan gelombang kecepatan hempasannya mencabut pepohonan dan membakarnya kemudian
mencampuradukkannya dengan abu gunungapi sampai kemudian tersingkap menjadi kesatuan. Arang dari pohon ini baik kalau ditera umurnya menggunakan pentarikhan umur absolut menggunakan karbon-14.

Pengamatan hari ini berakhir pukul 16.00, kami kemudian menempuh perjalanan laut selama empat jam kembali ke hotel di Sumbawa Besar, menyeberangi Teluk Saleh. Dari kejauhan kami mengamati terumbu koral Kuarter yang terangkat membentengi pulau-pulau di dekat Selat Batahai. Terumbu koral terangkat ini adalah suatu bukti bahwa pulau-pulu ini masih terangkat didesak dari bawah oleh mekanisme Sesar Flores yang terkenal itu. Malam hari di atas pukul 19.00 langit gelap di atas anjungan dan geladak kapal berhiaskan semburat bintang-gemintang yang sangat indah – sebagian badan galaksi Bima Sakti yang semburatnya di langit membentuk jalur sejajar dengan arah kapal bisa saya lihat, juga rasi bintang paling mudah diamati di langit : Orion – yang dicirikan sabuk bertatahkan tiga bintang di ikat pinggang sang pemburu itu. Pukul 20.00 kami sampai di hotel dan tentu saja segera makan malam setelah kegiatan melelahkan tetapi sangat menyenangkan hari ini. Sampai pukul
22.30 kami masih melanjutkan diskusi, mereview apa yang kami lihat hari ini. Sampai pukul 24.00 saya bersama Pak Heryadi Rachmat masih berdua di loby hotel menyusun bahan presentasi tentang potensi migas NTB untuk disajikan esok harinya kepada para pejabat Pemda NTB.

Sementara itu, di sebuah kamar/bungalow hotel yang ditempati seorang teman yang malam sebelumnya diganggu “penunggu” hotel, sampai pukul 03.00 ternyata masih mengalami gangguan. Seorang teman yang memiliki kemampuan supranatural soal “alam” ini membenarkan bahwa memang ada gangguan itu. Tetapi hanya menakut-nakuti, bukan untuk yang lain. Di tempat terpencil seperti ini, saya pikir wajar saja kalau itu terjadi.

Sabtu 6 Desember 2008 pagi hari kami sarapan di hotel sambil bersiap pulang kembali ke Lombok. Pukul 08.00 kami mulai melakukan perjalanan menuju Pototano, pelabuhan penyeberangan Sumbawa-Lombok. Pukul 10.30 kami tiba di sana. Pemandangan sungguh indah buat seorang geologist walaupun gersang sebab banyak bukit gundul baik di darat maupun di laut. Saat perjalanan pergi pada Kamis malam kami tak melihatnya sebab saat itu gelap dan sedikit hujan. Pukul 11.00-13.00 kami menyeberangi Selat Alas. Tiba di Pelabuhan Kahyangan, Gunung Rinjani yang perkasa kembali kami lihat. Tak jauh dari pelabuhan, kami berhenti di sebuah bukit tandus yang disebari bongkah andesit basaltik hasil letusan Rinjani. Keunikannya adalah bahwa piroklastika di bukit ini bersatu tempat dengan batugamping terumbu – mencirikan bahwa tumpahan piroklastika masuk ke dalam laut yang ditumbuhi karbonat terumbu.

Pukul 15.00 kami berhenti di sebuah objek wisata Narmada –sebuah istana Kerajaan Lombok-Karangasem yang didirikan tahun 1775. Yang menarik dari Narmada adalah bangunan/arsitektur kolam-kolam airnya yang luar biasa, kelihatan sangat kokoh dan indah. Tentu pada saat dibangun, telah menggunakan keahlian lokal dalam merancang dan membangunnya. Pukul 16.30 kami tiba di Senggigi dan menginap di sebuah hotel di kawasan pantai paling terkenal di Lombok ini.

Malam hari dari pukul 19.00-23.15 kami mengadakan acara di tepi pantai Senggigi berupa makan malam, hiburan, presentasi teknis, dan pemutaran film – sebuah ramuan acara yang unik menggabung hiburan yang santay dan presentasi teknis yang serius. Beberapa tamu turis asing pun ikut menikmati acara kami itu di meja-meja dekat restoran. Saat makan malam, hujan mulai rintik-rintik turun. Wah…padahal panggung dan meja-meja telah disusun rapih. Pawang hujan pun dipanggil, dan dengan kekuatan magisnya yang tak bisa dipahami terlihat mega mendung mulai beringsut ke Mataram. Lalu bulan pun kembali terlihat dan langit cerah sampai acara usai. Di Mataram sementara dikabarkan turun hujan (hm..). Sekitar 15 orang pejabat dari Pemda NTB hadir dan larut bersama kami dalam acara-acara yang telah disusun. Presentasi teknis ada dua, yaitu : (1) mengenalkan fungsi dan peranan BPMIGAS di Indonesia ditambah dengan gambaran eksplorasi migas secara umum, dan (2) menunjukkan
ringkasan dan hasil kegiatan ekspedisi atau ekskursi kami ke Pulau Satonda, dan potensi migas wilayah Lombok-Sumbawa. Acara berakhir dengan pemutaran film koleksi Pak Heryadi Rachmat tentang : erupsi Tambora, penelitian Satonda, dan letusan Gunung Rinjani.

Minggu 7 Desember 2008 pukul 14.20 kami meninggalkan Lombok kembali menuju Jakarta dengan Garuda GA 433.

Ekspedisi/ekskursi yang kami lakukan, dibantu oleh UGM dan Pemda NTB, serta melibatkan perusahaan jasa event organizer di Jakarta, dan perusahaan jasa pariwisata di Lombok telah berjalan dengan sukses, lancar dan selamat. Target yang kami rancang jauh-jauh hari semuanya tercapai. Buat seorang geologist seperti saya, pekerjaan lapangan adalah suatu kemutlakan, juga bermanfaat untuk kawan-kawan nongeologi, mereka mengenal bagaimana geologi dan pekerjaan seorang geologist.

Perjalanan ini juga mendapatkan liputan yang cukup luas dari media-media lokal maupun nasional. Seorang wartawan Kantor Berita Antara bahkan mengikuti kami sejak Mataram sampai Satonda. Beberapa berita telah diturunkan di TV maupun surat kabar. Meskipun demikian klarifikasi harus dilakukan sebab ada beberapa mispersepsi dalam pemberitaan.

Semoga catatan ini bermanfaat.

By : Awang Harun S

Ilustrasi : RDP

— Sumber gambar : Google dan Panoramio.com

http://geoblogi.iagi.or.id/2008/12/09/ekspedisi-satonda-2008-sumbawa-bpmigas/comment-page-1/

Halaman 1 dari 3

Editorial

Illegal Mining Tetap Berlangsung
11/07/2010 | Indra Jaya
article thumbnail

Sumbawa, Sumbawanews.com.- Meskipun Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah mengeluarkan peringatan keras akan menindak tegas pelaku illegal mining di O;lat Labaoang Kecamatan Lape, tetapi peringatan itu t [ ... ]


Editorial Lainnya

Iklan Baris

Shout Box

Archives Pesan
30/07sayapa rungan
29/07akihiroketika tentara jepang kalah pada perang dunia II..jepang di wajibkan menyerahkan seluruh harta rampasan perang kpd sekutu di hawaii... 3 kapal perang jepang yang membawa harta rampasan berupa emas, permata dan kekayaan kerajaan2 di asia tenggara hilang dlm perjalanan menuju hawaii... di sinyalir ketiga kapal itu sengaja di tenggelamkan di pantai selatan sumbawa.. seluruh harta di masukkan kedalam gua di tengah hutan sumbawa..seluruh pasukan dan harta tersebut di bom bersama2 dlm gua tersebut... foto satelite nasa menunjukkan ada gundukan logam mulia di daerah dodo..itulah mengapa newmont berkeras memperluas wilayah tambangnya ke daerah tersebut... krn di belakang newmont ada raksasa keuangan jepang bernama sumitomo..yg berniat mencari harta tersebut..
29/07jackharta karun itu di kuasai ghoib... begitu pula emas..dia kan muncul di suatu daerah tertentu.... kemudia pada saatnya nanti dia akan hilang lg.... jd mumpung lg muncul..ya serbuuuuuuuuuuuu
29/07isdjsiayas
29/073321boddddddddo
29/073321:)
29/07hendrotak sabar ingin melihat sumbawa lebih maju dari daerah lain
29/07oriebuktikan!
29/07bosangsekali AN-NUR tetap AN-NUR menang!!!
29/07dewi gi mna cara qta cara masukin baesiswa ke pt.newmont
29/07MukhlisNonda ade nonda pang tana Samawa
29/07MukhlisRoa gama balong tana samawa pang tin-tin amgkang mudi....Amin...
28/07SryOlat cabe adlh calon lokasi penambangan. tp sayang Bupati sudah meneken bln 4 kmrn tanpa pengetahuan Rakyat. Apakah Anda msh mw bilang LANJUTKAN......?
28/07ivanmau sampai kapan lingkungan kita tercemar?karna penambangan ilegal di olat labaong... apa tidak mikir dampak apa yang akan kita rasakan?
28/07lipensemoga masyarakat yang melakukan penambangan ilegal di olat labaong diberi kesadaran oleh tuhan.... janganlah anda merusak kelestarian alam dengan kesenangan jangka pendek

RSS Feed

feed-image Feed Entries